LANGIT7.ID - , Jakarta - Ada kehidupan pasti ada kematian, tidak akan ada yang kekal di bumi ini, kecuali sang maha pencipta Allah SWT. Kematian datang silih berganti kepada siapapun, tidak urut dan tidak ada aturan yang berlaku, siapa saja dan kapan saja bisa meninggal seketika.
Saat melayat atau melakukan takziah kepada orang yang meninggal, biasanya sahabat Langit7 dihadapkan pada tumpukan buku yasin (berisi Quran Surat Yasin) yang sudah disiapkan oleh sohibul bait.
Tidak sedikit pula orang yang melayat akhirnya duduk dan membuka buku yasin yang sudah tersedia. Namun apakah bacaan Yasin merupakan anjuran disaat melakukan takziah? Dan apakah bacaan Yasin sendiri punya manfaat khusus untuk mayat?
Baca juga: Makna Alif Lam Mim dan Yasin di Dalam Al QuranPendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat mengatakan dalam rangka bertakziah ada dua hal yang menjadi anjuran untuk dilakukan. Seperti dinukil dari kanal YouTube Dakwah Elite pada (13/11).
Takziah merupakan bahasa Arab yang memiliki makna secara bahasa adalah mendorong atau mengangkat.
"Untuk itu jika kita bertakziah ada dua hal yang harus diangkat," kata Adi Hidayat. Dua hal tersebut adalah:
1. "Kita bisa mengangkat amalan dari orang yang sudah meninggal, sehingga disampaikan oleh orang-orang yang belum meninggal dunia untuk diketahui." paparnya.
Rasulullah SAW bersabda: "Udzkuru mahasina mautakum".
Artinya: "Renung renungkanlah, ingat-ingatlah, sebut-sebutlah jasa-jasa, kebaikan-kebaikan orang-orang yang sudah meninggal,"
Sebaliknya, jika diangkat kebaikannya, maka tutup aibnya. Hal ini termasuk kepada siapapun. Orang yang semasa hidupnya terdapat banyak aib nya, jika sudah meninggal jangan dibicarakan kembali.
"Adabnya ceritakan hanya kebaikan orang yang meninggal, jika nanti orang lain melakukan kebaikan serupa karena cerita kita, maka dapat pahala yang serupa,"
Seperti hadits yang diriwayatkan Muslim berikut ini
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Man dalla 'alaa khoirin falahu mitslu ajri faa'ilih
Artinya: "Barangsiapa menunjukkan (manusia) kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim, no.1893).
2. "Mengangkat orang yang masih hidup dari yang ditinggalkan oleh yang meninggal." kata Adi Hidayat.
Dalam buku Adabul Mufrod, buku yang menjelaskan tentang kumpulan akhlak seorang muslim yang ditulis oleh Imam Bukhori berdasarkan hadits, dijelaskan bahwa;
"Ada dua hal yang diinginkan oleh orang yang sudah meninggal, pertama adalah istighfar, permohonan ampun untuknya, dan yang kedua doa dari orang masih hidup." jelas Ustadz Adi Hidayat.
Adi Hidayat menjelaskan dalam catatan Imam Bukhori disebutkan, saat seorang anak mengucapkan istighfar, memohon ampun kepada Allah untuk orang tuanya yang meninggal dunia, di alam kubur orang tersebut akan diangkat satu derajat. Kemudian orang tuanya bertanya yang langsung dijawab oleh malaikat "Ini adalah permohonan istighfar oleh anakmu sekarang."
"Jika istighfar saja sudah didengar dan berpengaruh kepada mayat di alam kubur, bagaimana dengan doa dan bacaan Alquran yang lain?"
Menanggapi seringnya masyarakat Indonesia membaca surat Yasin untuk orang yang sudah meninggal. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan memang ada hadits yang menganjurkan untuk membaca surat Yasin, tapi haditsnya lemah, walaupun ada ulama yang men-sahihkan hadits tersebut.
Selain itu, Ustadz Adi Hidayat menambahkan sama sekali tidak melarang ada pembacaan surat Yasin untuk orang yang sudah meninggal atau boleh-boleh saja dilakukan.
"Tapi, kalau saya prinsipnya, jika ada hadits yang diperdebatkan, mending ambil hadits yang tidak diperdebatkan. Itu akan lebih tenang." Aku Adi Hidayat.
Baca juga: Keutamaan Baca Yasin, Bermanfaat untuk Orang Sakaratul MautMerujuk kepada buku Imam Bukhori, adabnya adalah mendoakan mayat, dan doa yang disebutkan dalam hadits adalah doa yang selama ini dibaca dalam salat jenazah pada takbir ketiga.
اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ.
Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi’ madkhola hu waghsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa ‘aidz hu min ‘adzaabil qobri wa fitnati hi wa min ‘adzaabin naar.
Artinya:
"Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, sejahterakan dan maafkanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka."
(est)