LANGIT7.ID, Jakarta - Meski ada pembatasan jumlah jamaah, Kementrian Haji dan Umrah Arab Saudi menyatakan lebih dari 450.000 warga kerajaan itu yang mendaftarkan diri dalam 24 jam begitu registrasi dibuka bulan lalu.
Prioritas diberikan kepada mereka yang belum pernah melaksanakan Haji dalam lima tahun terakhir, dan mereka yang berusia 50 tahun dan sebelumnya tak pernah menjalankan ibadah tersebut.
Seif, warga Saudi usia 40-an, seperti dikutip
Al Jazeera pekan lalu, sebenarnya berencana melaksanakan haji tahun ini, tapi paket yang tersedia di luar jangkauannya.
"Enam tahun lalu saya membayar 3000 riyals (Rp13 jutaan), dan untuk layanan paket serupa tahun ini saya harus keluar 20.000 riyals (Rp75 jutaan)," ungkapnya. "Jadi saya putuskan tidak mendaftar."
Meski ia mengapresiasi otoritas karena ada layanan kesehatan, regulasi keamanan serta langkah-langkah antisipasi untuk mengatasi penyebaran pandemi, ia tetap merasa harga tersebut berlebihan.
"Tahun ini Haji hanya untuk orang kaya," keluh Seif. Ia juga mengkritisi pembatasan jumlah yang dibolehkan untuk melakukan ibadah.
"Seharusnya pemerintah mengizinkah setidaknya dua kali jumlah saat ini. Ruang untuk melakukan ritual haji itu luas. Saya pikir masih bisa mengakomodasi jamaah lagi dengan aman." ujarnya.
Seperti Saif, Ibrahim, membatalkan rencananya berhaji dengan istrinya tahun ini karena harga paket kelewat tinggi. Meski, ia berharap seandainya bisa berangkat.
"Tempat yang biasanya menyambut jutaan jamaah kini hanya menampung beberapa ribu," kata Ibrahim. "Jika saya punya uang, saya pasti berangkat. Haji tahun ini benar-benar akan jauh lebih mudah, terorganisir dan sebuah pengalaman mewah," imbuhnya.
Deputi Kementrian Kesehatan Arab Saudi, Hani Jokhdar, dalam rapat singkat dengan WHO bulan lalu menyatakan keputusan untuk membatasi peserta haji adalah untuk "kebaikan lebih besar". Saudi tidak ingin Haji tahun ini berubah menjadi titik penularan baru.
Hanya calon jamaah yang menerima empat merek vaksin yakni Pfizer, Astrazeneca, Moderna atau Johnson & Johnson yang diperbolehkan masuk ke Saudi untuk melaksanakan ibadah Haji. Calon jamaah juga diharuskan menjalani tes virus korona sebelum tiba ke kota suci Makkah.
Otoritas juga menugaskan satu tenaga kesehatan untuk setiap 20 jamaah yang memandu dan mengawasi penerapan protokol kesehatan selama mereka menjalankan ritual Haji.
Saat ini akses ke tempat-tempat suci di Mina, Muzdalifah, dan Arafah ditutup untuk umum dan hanya digunakan untuk keperluan Haji.
(arp)