Langit7, Jakarta - Dengan populasi penduduk yang merupakan mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi Islam.
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengatakan, dari 7 miliar populasi penduduk dunia, 1,28 miliar di antaranya merupakan penduduk yang berada di negara Islam.
Baca juga: Indonesia Targetkan Jadi Pusat Industri Halal dan Kiblat Fesyen Muslim DuniaDengan 53 persennya anak muda di bawah 30 tahun. Di mana mereka membuat pasar ekonomi Islam menjadi yang paling dinamis.
"Oleh sebab itu, sudah saat Indonesia mempelajari dan membuat strategi nasional untuk memenetrasi indikator ekonomi Islam," jelasnya di
Focus Group Discussion: Produk Halal Dalam
Marketplace Global, Kamis (9/12).
Selama ini, lanjut Lutfi, yang paling sering dipikirkan adalah memenuhi kebutuhan
supply. Tapi sayangnya, jarang yang memperhatikan terkait demand dari ekonomi Islam.
"Padahal itu bisa menjadi kekuatan luar biasa untuk kita memasarkan barang Indonesia," ujarnya.
Dilihat dari
Global Islamic Economic Indicator, skor Indonesia berada di posisi ke-3. Di mana produk makanan dan minuman halal berada di posisi ke-4 dan keuangan Islam berada di peringkat ke-6.
Baca juga: Kemendag Kenalkan Indonesia sebagai Pusat Fesyen Muslim Dunia Lewat JMFW 2021Ia menjelaskan, walaupun Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar, tapi peringkat itu menunjukkan masih ada beberapa kendala yang dihadapi.
"Salah satu bentuk dukungan yang telah kita berikan, yakni dengan kemudahan dalam urusan sertifikasi halal guna mendukung produk makanan dan minuman halal," jelasnya.
Sementara untuk keuangan Islam, lanjut dia, masih memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya kurang adaptable dengan sistem keuangan, terutama dalam hal mudharabah dan murabahah.
"Di mana sistem pajaknya itu kurang bersahabat dengan kegiatan tersebut. Sehingga masih perlu perbaikan secara struktur," jelasnya.
Baca juga: Expo 2020 Dubai, Peluang Pasar Ekspor UKM IndonesiaSelanjutnya, untuk muslim
travel friendly indicator, Indonesia juga masih berada diposisi ke-6. Menurutnya, indikator itu masih perlu dipelajari guna mendongkrak posisi Indonesia berada di puncak peringkat.
Sementara dalam fesyen muslim, Lutfi mengatakan, dari USD11 miliar nilai ekspor dalam industri garmen, Indonesia hanya menjual sekitar USD500 juta dalam fesyen muslim.
"Begitu juga dengan farmasi dan kosmetik halal, di mana Indonesia masih kalah dengan Singapura. Untuk itu diperlukan pembahasan lebih lanjut dalam hal ini," jelasnya.
Lutfi menambahkan, industri Islam tidak hanya bicara soal keagamaan, tapi juga komersial.
"Artinya, dalam hal komersial tidak mengenal sebuah keyakinan, entah Islam atau bukan, tapi soal besarnya peluang pasar," tambahnya.
(zul)