LANGIT7.ID - Pondok pesantren merupakan model pendidikan Islam asli nusantara. Pesantren sejak dahulu menjadi tempat kaderisasi ulama hingga pahlawan bangsa. Nilai-nilai pesantren itu terus terjaga hingga kini.
Maka tak heran, sistem pendidikan pesantren selalu bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Habib Husein Ja’far Al-Hadar mengatakan, seorang santri memiliki nilai lebih sekaligus menjadi identitas tersendiri dibanding pelajar di lembaga pendidikan umum.
Baca Juga: Terinspirasi Ki Hajar Dewantara, Pesantren Harus Jadi Sistem Pendidikan Nasional
Habib Ja’far memaparkan 3 ciri khas pendidikan pesantren yang sudah melekat kepada santri sejak dahulu. 3 ciri khas itu yakni:
1. Tak Hanya Mengajarkan Ilmu tapi Juga AmalSantri tidak hanya belajar mengenai hal-hal kognitif saja. Santri datang ke pondok pesantren memiliki tujuan mulia. Ia tak datang ke kelas hanya sekadar belajar teoritik semata. Ada nilai yang mereka cari ketimbang pengetahuan saja.
“Seorang santri tidak hanya belajar tentang hal-hal yang bersifat kognitif, sebagaimana umumnya lembaga pendidikan. Dia tidak hanya belajar tentang ilmu saja, karena soal ilmu, anda tidak akan pernah lebih pintar dari kalkulator, ilmu umum anda tidak akan lebih pintar dari Wikipedia atau google, karena kognitif saja tidak menjadi tujuan pendidikan kita,” kata Habib Ja’far melalui kanal youtube Jeda Nulis, dikutip Jumat (10/12/2021).
Ilmu yang didapatkan dari kiai dikembangkan dalam pendidikan umum yaitu afektif atau tingkah laku. Pesantren sejak awal menanamkan hal itu dalam mendidik para santri. Dalam tradisi pesantren, ilmu adalah amal.
2. Selalu Mencari KeberkahanMeraih keberkahan guru menjadi salah satu ciri khas para santri. Nilai keberkahan ini yang belum diserap oleh lembaga pendidikan umum. Para santri tidak hanya dituntut untuk menimba ilmu dari kiai atau sekadar transfer pengetahuan saja. Bahkan, para santri tidak hanya dikader untuk bertingkah laku baik, tapi mereka dikader untuk mendapatkan keberkahan ilmu itu sendiri.
Baca Juga: Sorogan dan Bandongan, Metode Belajar Ala Pesantren Tradisional
“Karena ilmu tanpa keberkahan tidak akan memberikan kebahagiaan di dunia, apalagi keselamatan di akhirat dalam kamus para santri. Maka itu keberkahan begitu penting. Misalnya, seorang santri tidak akan membaca satu kitab, kecuali akan mengirimkan al fatihah sebagai hadiah kepada penulis kitab tersebut,” kata Habib Ja’far.
Seorang santri akan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan keberkahan dari Allah melalui berkhidmat kepada guru. Mulai dari hal-hal kecil, seperti membalikkan sandal kiai agar tidak kesusahan saat hendak dipakai kembali. Kerap pula didapati santri meminum bekas sisa minuman kiai guna mengharapkan keberkahan.
Para santri memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada kiai. Bukan hanya saat bertemu, saat tidak bertemu pun demikian. Tak hanya saat masih mondok, tapi rasa hormat itu akan selalu terbawa meski sudah berkarir di luar pesantren.
“Setelah keluar, penghormatan kepada kiai masih dijaga, karena mereka mengharapkan keberkahan dari kiai atas ilmu yang telah diajarkan. Inilah unik identintas utama seorang santri, yang menyebabkan mereka sangat kuat sebagai satu identitas keilmuan,” kata Habib Ja’far.
3. Belajar Ilmu dari Jalan Tak TerdugaHal unik lain dalam pendidikan pesantren adalah belajar ilmu dari jalan tak terduga. Habib Ja’far menceritakan sebuah kisah tentang seorang santri dan kiai. Suatu ketika seorang santri datang kepada seorang kiai untuk belajar tentang ikhlas.
“Tapi alih-alih sang kiai meminta dia masuk ke dalam kelas untuk belajar ikhlas secara teoritik, tapi kiai itu bilang sapu halaman rumahku,” kata Habib Ja’far.
Dua sampai tiga hari pertama santri masih heran dan berpikir jika perintah menyapu halaman merupakan syarat masuk kelas. 2-3 pekan, santri itu mulai merasa capek. Dia kerap duduk termenung, karena hanya menyapu tidak kunjung masuk kelas.
Hingga sampai 3 bulan, santri itu terus jalan saja menyapu halaman meski tidak pernah mendapat tegur sapa dari kiai. Pada akhirnya dia menerima hal itu dan bergumam ‘kalau memang perintah kiai, sami’na wa atho'na.
Sampai 6 bulan menyapu halaman, santri itu sudah menerima kenyataan. Dia tidak berpikir apa-apa lagi, dia menjalani aktivitas itu dengan hati riang tanpa beban sedikitpun. Pada saat itu, dia dipanggil oleh kiainya.
“Sini, kamu telah memahami apa makna ikhlas itu sendiri. Dengan menyapu selama 6 bulan, hingga kamu bisa melawan nafsumu yang awalnya tidak terima, hingga kamu ikhlas menyapu rumah calon gurumu. Maka, itulah ilmu ikhlas yang sejati, bukan yang berada di buku, bukan yang berada di kelas.”
(jqf)