Pemerintah Indonesia akan menyiapkan gelaran Presidensi G20 dengan mengedepankan kearifan lokal. Hal ini bertujuan agar peserta KTT G20 bisa memberikan kenangan mendalam bagi delegasi dan pimpinan negara peserta yang hadir.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo, setiap tempat penyelenggaraan pertemuan G20 harus memberikan kesan kuat bagi delegasi maupun pimpinan yang hadir, sehingga berbeda dengan penyelenggaraan rangkaian kegiatan G20 di negara-negara lain sebelumnya.
“Suasana persidangan yang di Bali misalnya. Aksesorisnya ciri kearifan lokal Bali sangat bagus. Sehingga persidangan akan lebih hidup dan peserta bergairah dalam mengikuti pertemuan," kata Wayan Koster dalam diskusi media (Dismed) yang digelar virtual dengan tema "Menjaga Wajah Bangsa di Gelaran G20", Senin (13/12/2021).
Gubernur Koster menambahkan jika di setiap pertemuan yang digelar di Bali akan menampilkan banyak kearifan lokal yang menjadi ciri khas dari Pulau Dewata. Dari mulai ornamen hingga tarian khas Bali yang terkenal, menjadi bagian yang akan ditampilkan oleh penyelenggara pertemuan.
Wayan Koster bahkan akan terjun langsung mempersiapkan setiap tempat pertemuan yang akan dipergunakan. Semua dilakukan demi memberikan pelayanan yang optimal kepada para delegasi maupun pimpinan negara yang akan datang.
"Saya akan mempersembahkan yang terbaik untuk pelaksanaan gelaran G20 yang dilakukan di Indonesia, khususnya Bali," tuturnya.
Baca juga:
Menlu: G20 Jadi Katalis Pemulihan Ekonomi GlobalPemerintah Provinsi Bali juga berkomitmen untuk menata hutan mangrove seluas 1.200 hektare. Lokasi ini mejadi salah satu titik yang diyakininya mampu memikat para delegasi maupun pimpinan G20 yang datang di pertemuan-pertemuan itu.
Nantinya, dilokasi ini akan diberi fasilitas persemaian yang akan mampu menghasilkan 10 juta bibit pada beberapa waktu ke depan.
Salah satu gelaran acara G20, akan bertempat di sekitar hutan mangrove sebagai simbol dukungan Indonesia dalam komitmennya mengantisipasi perubahan iklim di masa mendatang. Jadi, dibangunnya hutan mangrove itu sekaligus menunjukkan langkah konkret yang telah dilakukan dalam menindak lanjuti perubahan iklim.
"Saat ini tengah dibangun oleh pemerintah. Terkait infrastruktur oleh Kementerian PUPR dan terkait dengan Mangrove akan dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," katanya.
Setiap bangunan yang dilintasi oleh para delegasi ke tempat perhelatan G20 tersebut diusulkan mempergunakan panel surya. Saat ini ide tersebut tengah di kaji secara matang. Langkah ini juga menujukkan komitmen Indonesia yang tengah menyuarakan penggunaan energi bersih bebas karbon.
Penerangan jalan umum juga akan menggunakan panel tenaga surya yang akan dipasang pada sejumlah jalan yang dilintasi oleh para delegasi ketika menghadiri pertemuan internasional itu.
Baca juga:
Presidensi G20 Diharapkan Jadi Momentum Pemulihan Ekonomi DuniaPenggunaan energi yang bebas karbon juga akan dipergunakan pada transportasi berbasis listrik yang menggunakan baterai. Para delegasi maupun pimpinan negara akan menggunakan transportasi pada setiap berkegiatan dalam pertemuan G20 yang diselenggarakan di Bali.
"Adanya hutan mangrove dan penerapan energi yang bersih, tentunya akan menjadi showcase energi ramah lingkungan dan menjadi taste baru sesuai instruksi presiden," kata Koster.
(sof)