Langit7, Jakarta - Wirausaha sering dikaitkan dengan kegiatan dagang atau jual-beli dengan tujuan mendapatkan nilai keuntungan materi.
Salah kaprah soal wirausaha itu menjadikan sebagian orang enggan untuk berwirausaha dan memilih untuk menjadi pegawai kantoran. Di mana mereka merasa nyaman dengan mengandalkan gaji bulanan.
Baca juga: Kekuatan Wakaf Era Turki Utsmani: Buka Lapangan Kerja, Biayai Pendidikan hingga MiliterHal itu disampaikan Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Haris Supratno secara daring, di Seminar Kewirausahaan:
Road to Jagoan Wirausaha (Jawara) Pesantren 2021 - 2022, Minggu (26/12).
"Wirausaha itu bermakna bahwa setiap aktivitas kita memiliki nilai tambah. Jadi bukan arti sempit yang hanya bernilai ekonomi saja, melainkan segala nilai tambah baik materi dan non materi itu bisa dikatakan wirausaha," jelasnya.
Artinya, lanjut dia, apa pun yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah merupakan wirausaha. Menurutnya, kebanyakan orang hanya mengartikan atau memandang wirausaha dalam artian yang sempit.
"Jika dalam pengartian sempit, wirausaha dimaknai sebagai sesuatu yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi atau pun materi," ujarnya.
Baca juga: Outlook 2022, Teten : KemenKopUKM Fokus Redesign Struktur EkonomiDia berharap, dengan pemahaman yang luas soal wirausaha, dapat mendorong pertumbuhan angka wirausaha dari generasi muda.
"Harapan kami, mahasiswa dan santri di Jombang bisa mengimplementasikan kewirausahaan di masyarakat," katanya.
Menurutnya, pondok pesantren tidak mendidik santri untuk menjadi pegawai, tapi bagaimana mereka mampu menciptakan kewirausahaan.
Bahkan, diharapkan santri lulusan pesantren dapat menciptakan lapangan kerja melalui wirausaha, bukan malah mencari pekerjaan.
"InsyaAllah para santri memang dididik jiwanya untuk berwirausaha. Wirausaha tidak hanya sekadar soal pengusaha, tapi juga bisa di banyak bidang sesuai keahliannya masing-masing," tambahnya.
Baca juga: Tangkap Peluang, Santri Ini Sukses Kembangkan Bisnis Digital Agency(zul)