LANGIT7.ID - , Jakarta - Sampah plastik masih menjadi momok dan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sampai detik ini. Indonesia sendiri dinobati sebagai negara kontributor sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok dengan estimasi 0,48–1,29 juta metrik ton per tahun.
Melihat fakta tersebut menjadi penting untuk membangun kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk berperan serta dalam mengurangi sampah plastik. Sejalan dengan itu, hampir sebagian daerah di Indonesia menerapkan kebijakan pengurangan kantong plastik.
Baca juga: Ikut Kurangi Sampah Plastik, Mulai dari Diri Sendiri dengan Cara IniMeski begitu, keberadaan plasti tidak bisa dihindari begitu saja. Kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan tetap menjadi nomor satu untuk menanggulanginya.
Jenis plastik yang harus dihindari
Produk plastik berbasis minyak bumi tidak dapat terurai secara hayati, artinya tidak terurai menjadi zat alami. Sebaliknya, mereka terurai menjadi fragmen yang dikenal sebagai mikro dan nanoplastik yang mencemari lingkungan dan mengancam ekosistem alam serta kesehatan manusia.
Berikut 3 plastik berbahan dasar minyak bumi yang harus Anda hindari, seperti dilansir dari laman healthline.
1. Plastik sekali pakaiPlastik sekali pakai ini banyak sekali terdapat pada kemasan makanan dan minuman. Seperti sedotan, botol minuman, tutup botol, minuman gelas plastik dan kantong plastik adalah plastik sekali pakai yang paling umum. Jenis plastik ini juga tidak lestari dan seringkali dibuang sembarangan.
Lautan dan wilayah pesisir sangat rentan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh plastik sekali pakai ini. Seperti yang disebutkan oleh Great Pacific Garbage Patch bahwa mayoritas sampah adalah sampah plastik di Samudra Pasifik antara Jepang dan Hawai.
2. Plastik dengan BPABisphenol-A (BPA) adalah aditif plasticizer yang digunakan untuk membuat polivinil klorida (PVC), yaitu bahan yang digunakan dalam banyak produk plastik.
BPA tidak hanya terakumulasi di lingkungan tetapi juga bermigrasi dari kemasan makanan ke makanan itu sendiri. Ketika tertelan, bahan tersebut dapat meningkatkan risiko infertilitas, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dan gangguan metabolisme lainnya.
3. Wadah dari plastikMeluasnya penggunaan wadah sekali pakai yang dapat dibawa pulang juga berkontribusi besar terhadap sejumlah limbah yang mengarah pada polusi dan racun lingkungan. Terlebih saat ini banyak sekali pengusaha atau UKM makanan dan minuman yang menjual secara online, menggunakan wadah dari plastik.
Agar dapat menghindari jenis-jenis plastik di atas, ada cara yang bisa Anda lakukan untuk menguranginya, yaitu:
1. Pilih sedotan logam atau bambu yang dapat digunakan kembali sebagai pengganti sedotan plastik sekali pakai. Sediakan juga sikat pembersihnya untuk sedotan agar dapat digunakan kembali dan sedotan tetap higienis. Sebagai alternatif, sedotan kertas sekali pakai dapat terurai secara hayati dan ramah lingkungan.
2. Pilih botol air nonplastik atau bebas BPA yang dapat digunakan kembali dan pertimbangkan untuk membeli sikat botol. Bisa juga menggunakan Tumbler untuk botol air sehari-hari yang dapat digunakan berulang-ulang.
3. Gunakan teko di rumah, hal ini dapat membantu mengurangi penggunaan botol air plastik sekali pakai. Teko juga bisa dimasukkan ke dalam kulkas jika ingin air dingin, layaknya botol air plastik.
4. Jangan meminta alat makan, khususnya saat Anda memesan makanan untuk dibawa pulang. Sebaiknya, sediakan alat makan sendiri.
Baca juga: Cara Sederhana Kurangi Sampah Plastik untuk Selamatkan Bumi5. Mengganti wadah makanan plastik yang ada di rumah dengan wadah kaca atau stainless steel atau bahan lain seperti bambu, sekat padi yang ramah lingkungan.
6. Carilah produk bioplastik yang dapat terurai secara hayati sebagai pengganti plastik konvensional berbasis minyak bumi.
7. Mencuci dan menggunakan kembali wadah makanan plastik, seperti Tupperware dan kantong plastik zip, dapat membantu mengurangi dampak lingkungan.
(est)