LANGIT7.ID, Jakarta - Imam besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin Umar mengajak kepada semua masyarakat Indonesia di awal tahun 2022 untuk senantiasa bersyukur. Menurut dia, Indonesia dapat keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19 dengan baik sehingga tidak mengalami keadaan yang parah seperti negara lain.
Ia mengatakan bahwa musibah merupakan surat cinta dari Allah kepada seorang hamba untuk kembali kepada-Nya.
Pada dasarnya, musibah dan kesedihan seringkali membuat manusia lebih dekat kepada Allah. Namun sebaliknya, kenikmatan dan kebahagiaan seringkali membuat manusia jauh dari Allah.
Baca Juga: 5 Cara Siapkan Mushala dalam Rumah yang Bisa Tambah Khusyuk Shalat"Bukankan lebih khusyuk berdoa saat kita berada di zona sulit dari pada saat kita berada di zona mudah," kata Prof Nasaruddin dalam kegiatan zikir nasional secara virtual, dikutip Senin (3/1/2022).
Prof Nasar menyampaikan semakin jauh jarak antara kenikmatan dan penderitaan, maka semakin lemah iman seseorang. Tapi semakin dekat jarak antara kenikmatan dan penderitaan, maka semakin kuat iman seseorang.
"Maksunya, kalau dia ditimpa musibah, berucap: alhamdulillah, ada surat cinta dari Allah, aku diingatkan untuk kembali kepadanya. Bukankan zona kesedihan itu membuat kita lebih dekat kepada Allah dan bukankah zona kenikmatan itu seringkali membuat kita jauh dari Allah," ujar Prof Nasar.
"Saat kita ditimpa musibah Allah akan menaikkan derajat kita. Jadi, jangan takut ditimpa musibah dan jangan puas kalau diuji kemewahan, sebab kalau kita berada di puncak, mau kemana lagi setelah itu kalau bukan turun ke bawah," lanjutnya.
Baca Juga: Deretan Manfaat Beraktivitas di Pagi Hari, Mulai dari Fisik Hingga Pola PikirHanya saja, karena manusia tidak tahu hikmah dibalik musibah maka kebanyakan dari manusia mengeluh. "Tetapi seandainya Allah membuka rahasia dibalik musibah itu, kita tidak akan menjerit, sebaliknya mungkin kita akan mensyukuri musibah itu," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa syukur dalam bahasa Indonesia artinya memuji. Namun di dalam bahasa Arab ada empat tingkatan pujian, yakni:
1. TamadahOrang memuji dengan mulut tapi hatinya menolak. Lain di mulut lain di hati, ini ciri dari perilaku hipokrit dan munafik.
2. TahmidOrang memuji dengan mulut dan memuji dengan hati. Memuji lahir dan batin, apa yang ada di batin, seperti itulah yang keluar dari mulut.
3. SyukurLebih tinggi dari tahmid adalah syukur. Yakni selain mengucapkan di mulut juga ada action.
Baca Juga: Buya Yahya: Perubahan Waktu Hendaknya Jadi Momentum EvaluasiContohnya, orang mentraktir makan siang teman-temannya atas promosi kenaikan jabatan. Berbagi kepada orang lain atas nikmat yang Allah berikan kepadanya, itulah yang dinamakan syukur.
4. SyakurAda yang lebih tinggi dari syukur, yaitu syakur. Bukan hanya mensyukuri nikmat Allah tapi mensyukuri apa saja yang diberikan oleh Allah, termasuk mensyukuri musibah dan mensyukuri penyakit.
(zhd)