Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 22 April 2026
home sosok muslim detail berita
Peradaban Islam

Ibnu Haitsam, Fisikawan Muslim Abad ke-11 Pancarkan Cahaya Hingga Abad 21

Muhajirin Kamis, 06 Januari 2022 - 15:05 WIB
Ibnu Haitsam, Fisikawan Muslim Abad ke-11 Pancarkan Cahaya Hingga Abad 21
Ilustrasi Ibnu Haitsam (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Ilmuwan muslim di bidang fisika pada abad ke-11, Ibnu Haitsam, dikenal sebagai pencetus dasar fotografi. Saat mengeksplorasi sifat cahaya, dia menggunakan ruang gelap yang disebut Albeit Almuzlim atau amera obscura, sebuah perangkat yang menjadi dasar fotografi.

Dari eksperimen itu, Al-Haitsam menemukan, cahaya yang dipancarkan melalui lubang kecil bergerak lurus dan memproyeksikan gambar ke dinding yang berlawanan. Dia lalu menyimpulkan, penglihatan yang didapat dengan sinar yang datang dari sumber cahaya eksternal dan masuk ke mata, bukan melalui sinar yang dipancarkan dari mata.

Eksperimen itu hanya salah satu terobosan Al-Haitsam yang menerangi dunia modern saat ini. Pengetahuan saat ini tentang sains dibangun ribuan tahun dari akumulasi kinerja para ilmuwan klasik. Para ilmuwan muslim mengambil peran sangat signifikan dalam hal ini.

Para ilmuwan muslim pada masa puncak kejayaan peradaban Islam telah meletakkan dasar bagi sains modern.

Dalam International Year of Light and Light-Based Technologies (IYL2015), UNESCO telah memperingati pencapaian para ilmuwan yang telah merintis dasar-dasar sains modern selama berabad-abad. Nama Ibnu Haitsam masuk dalam perayaan itu. Ia memberikan kontribusi abadi dalam memahami penglihatan, optik dan cahaya.

Cahaya sebagai subjek yang menyatukan umat manusia, mengikuti perkembangan visi dan teori cahaya yang ditemukan al-Haitsam menyajikan pelajaran penting bagi generasi saat ini. Warisan tentang teori polymath misalnya, menunjukkan bahwa pengetahuan dikembangkan selama berabad-abad dan melintasi peradaban.

Al-Hasan Ibn Al-Haitsam lahir sekitar seribu tahun lalu di Basra (sekarang Irak). Ia hidup pada masa keemasan peradaban Islam, sebuah peradaban yang mampu bertahan selama berabad-abad, dan membentang dari Spanyol hingga Cina. Peradaban Islam menghasilkan banyak penemuan di bidang sains, teknologi hingga kedokteran.

Penemuan para ilmuwan muslim sangat penting dalam melengkapi akumulasi pengetahuan ilmiah yang kini teraplikasi dalam bentuk rumah, sekolah, rumah sakit, kota, cara berdagang, dan memahami alam semesta.

Ibnu Haitsam sangat beruntung karena lahir saat buku-buku dari peradaban Yunani, Syria, dan Persia sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Peradaban itu diklaim sebagai pewaris tradisi ilmiah Mesir kuno, Babilonia, India, dan Cina.

Ibnu Haitsam mendasarkan teorinya pada karya ilmuwan Yunani bernama Galen, yang telah memberikan penjelasan rinci tentang mata dan jalur optik. Namun, dia menganut metode analisis empiris untuk menyertai postulat teoritis yang serupa dalam cara tertentu dengan metode ilmiah saat ini.

Ibnu Haitsam sadar indra rentan terhadap kesalahan, ia lalu merancang metode verifikasi, pengujian, dan eksperimen untuk mengungkap kebenaran objek penelitiannya.

Ibn al-Haitsam pernah berkata, “jika mempelajari kebenaran adalah tujuan ilmuwan, maka dia harus menjadikan dirinya musuh dari semua yang dia baca.”

Sejarawan sains, Glen M Cooper, dari Claremont McKenna College di California, mengatakan, “Ibn al-Haitsam adalah salah satu ilmuwan yang benar-benar hebat. Melalui penggunaan eksperimen pemikirannya yang cerdas dan dalam penekanannya saat melakukan eksperimen yang sebenarnya dan hati-hati, Ibn al-Haitsam harus dianggap sebagai salah satu dari segelintir ilmuwan yang kontribusinya sangat penting bagi perkembangan dunia modern.”

Al-Haitsam Berpengaruh Sampai Saat ini

Hari ini, gambar sistem saraf tertua yang diketahui berasal dari Buku Optik Ibnu Haitsam, di mana mata dan saraf optik diilustrasikan. Ketika Buku Optik (Kitab al-Manazir) karya Ibnu al-Haitsam diterjemahkan ke dalam bahasa Latin (De Aspectibus), dampaknya menyebar ke seluruh dunia. Baik penemuan optik, maupun fakta tentang eksperimen al-Haitsam yang mempengaruhi orang-orang yang datang setelahnya selama berabad-abad.

Jadi, bagaimana pengaruh itu menyinari generasi berikutnya? Pada awal abad ke-12, Kota Toledo di Spanyol menjadi pusat penerjemahan buku-buku Arab ke Bahasa Latin. Cendekiawan Kristen, Yahudi dan Muslim berkumpul di sana. Mereka tinggal berdampingan satu sama lain dan bekerja sama untuk menerjemahkan pengetahuan lama ke dalam bahasa latin dan ke bahasa Eropa lainnya.

Profesor A. Mark Smith dari University of Missouri, yang secara khusus mengkaji sejarah abad pertengahan dan sejarah sains, pernah menjelaskan pentingnya kontribusi al-Haitsam. Kontribusi utama Ibnu al-Haitsam untuk pengembangan optik modern adalah penciptaan sintesis optik yang brilian dari berbagai teori sebelumnya, serta teorinya sendiri.

“Fakta bahwa itu bertahan begitu lama dan akhirnya membutuhkan seorang pemikir dari ketajaman luar biasa untuk menawarkan alternatif yang layak dalam teori pencitraan retina adalah bukti keanggunan dan kekuatan logisnya.” kata Mark.

Sumber: elsevier.com

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 22 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)