LANGIT7.ID - , Jakarta - Global Developmental Delay atau disebut keterlambatan perkembangan umum adalah keterlambatan perkembangan bermakna pada dua (atau lebih) bidang perkembangan pada anak.
Dokter spesialis anak & konsultan neurologi anak FKUI/RSCM Prof Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), mengajak orang tua untuk mawas dan mengenali "red flag" pada anak.
Baca juga: Buah Hati Lahir, Baca Doa Ini untuk Perlindungan dan Segala Harapan baikDokter Hardiono menyebutkan bahwa 30% dari anak di dunia mengalami keterlambatan perkembangan. Mulai dari keterlambatan ringan hingga berat. Dimana 5-10% diantaranya sudah memasuki fase developmental disorder atau gangguan spesifik seperti autisme.
"Jika orang tua telah mendeteksi tanda-tanda keterlambatan pada perkembangan anaknya, orang tua diminta untuk tidak diam saja atau menunggu kemajuan perkembangan anak dengan sendirinya. Karena mendeteksi dan menangani keterlambatan perkembangan sejak dini akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik," kata dokter Hardiono seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (7/1/2022).
Adapun hal yang harus diperhatikan orang tua pada perkembangan anak apakah sesuai dengan pertumbuhan pada umumnya atau tidak, adalah sebagai berikut:
Pada usia 6 bulan, seorang anak sudah harus melalukan gerak motorik tengkurap. Sedangkan perkembangan komunikasinya adalah menoleh saat dipanggil. Umumnya hal ini ditemui pada anak rentang usia 6 bulan - 1 tahun.
Di usia 9 bulan, seorang anak sudah harus mampu duduk sendiri. Kemudian pada usia 11,5 bulan-1 tahun anak sudah dapat merangkak, bubling, dan menunjuk dengan telunjuk.
Baca juga: Jadikan Akhir Pekan Ini Momen Ajari Si Buah Hati Memilih MaskerKemudian di usia 13,5 bulan kemampuan gerak motoriknya bertambah yaitu bisa berdiri dan di usia 18 bulan sudah mampu berjalan. Untuk perkembangan bahasa, pada usia 16 bulan anak sudah bisa mengucap kata sederhana seperti Mama Papa.
"Setelah mendeteksi, orang tua dianjurkan untuk mendiagnosis jenis keterlambatan perkembangan anak dengan dokter spesialis anak atau ahlinya, lalu mengobati apa yang bisa diobati, merujuk terapi yang tepat sesuai dengan diagnosis, konseling dan langkah terakhir untuk rujuk konsultasi selanjutnya," jelas dokter Hardiono.
(est)