Erdogan sebelumnya telah mengumumkan bahwa tanggal 14 Mei akan menjadi tanggal pemilihan parlemen dan presiden berikutnya di Turki. Dia berencana mencalonkan kembali untuk maju sebagai Presiden Turki.
Data pemerintah setempat pada Rabu (8/2) kemarin, korban tewas di Turki dikonfirmasi naik menjadi 9.057 orang. Sementara di Suriah naik menjadi 2.950 orang.
Hal itu disampaikannya setelah beberapa rakyat Turki yang menjadi korban gempa mengkritik langkah pemerintah. Warga menilai pemerintah Turki lamban dalam memberikan pertolongan.
Tim evakuasi kesulitan mengevakuasi para korban gempa yang tertimbun reruntuhan bangunan. Diperkirakan jumlah korban tewas akan terus bertambah mengingat gempa berkekuatan Magnitudo 7,8 itu memiliki daya rusak cukup parah.
Salah satu yang terdampak adalah masjid bersejarah The Haji Yusuf Mosque yang berdiri di pusat kota Malatya. Masjid ini juga dikenal sebagai Great Earthquake Mosque atau Masjid Gempa Besar.
Dalam situasi ini, Haedar menilai solidaritas dan kepedulian sangat dibutuhkan. Semua masyarakat diharapkan bisa memberikan bantuan dan dukungan kepada korban agar bisa melewati musibah tersebut.
Dalam sejarah, Turki merupakan negara yang langganan dilanda gempa. Alasannya adalah karena negara yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan itu berada di area persimpangan lempeng tektonik Anatolia.
Kaar menyempatkan diri sepulang kerja untuk memasak sekitar 100 makanan. Tak hanya itu, dia juga mengawasi pendistribusian bantuan makanan dan pakaian kepada yang membutuhkan di lingkungan sekitar.
Perdana Menteri (PM), Swedia Ulf Kristersson mengecam aksi pembakaran Al-Quran tersebut. Dia menyebut, tindakan itu sebagai provokasi yang tidak semestinya dilakukan meskipun Swedia menjunjung kebebasan berpen
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlt avu?o?lu, mengecam pemerintah Swedia yang mengizinkan pembakaran Al-Quran secara sengaja. Turki menilai tindakan tersebut sebagai rasisme dan kejahatan kebencian yang tidak bisa dikategorikan sebagai kebebasan berpendapat.
Yunus Emre merupakan salah satu penyair sufi yang sangat legendaris di Turki. Penyair yang hidup di awal masa Turki Utsmani itu masih dikenang dan selalu harum di kalangan masyarakat Turki hingga kini.
Institut Yunus Emre Turki secara resmi membuka kantor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kerja sama itu dalam rangka memperkuat hubungan Indonesia-Turki melalui diplomasi bahasa dan budaya.