Di tengah retaknya politik internal, pasukan Muslim tetap melaju. Persia dan Romawi tak lagi berdaya, bukan semata kalah strategi, tapi kehilangan jiwa. Islam muda justru menang karena gagasan yang masih menyala.
Kematian Yazdigird III memupus sisa perlawanan Persia. Di pinggiran Kaspia, api penentangan terakhir berkobar, berujung cekcok antar-pasukan Muslimpertanda retak awal di tubuh ekspedisi Syam dan Kufah.
Dikejar pasukan Arab dan dikhianati bangsawannya sendiri, Yazdigird III berakhir di rumah penggiling tepung Mirgab. Runtuhnya Sasanid menunjukkan sebuah dinasti mati bukan hanya oleh perang, tapi oleh retaknya kekuasaan dari dalam.
Di tengah runtuhnya hegemoni Persia, Yazdigird III berlarian dari satu wilayah ke wilayah lain. Bukan tombak Arab yang menghabisinya, melainkan intrik bangsawannya sendiri di tepian Sungai Mirgab.
Di Gedangan, Sidoarjo, 1904, darah tumpah di tanah tebu. Pemerintah kolonial menyebutnya pemberontakan fanatik. Tapi di balik revolusi Jawi itu, tersimpan letupan sosial dari dunia yang tengah berubah.
Terdesak di tanah sendiri, Yazdigird III mencoba merajut kembali mahkota Sassaniyah. Dari Samarkand hingga Merv, langkahnya dibayang-bayangi kecurigaan sekutu dan pembangkangan bangsanya sendiri.
Istakhr bergolak, Khurasan menyusul. Abdullah bin Amir menumpas pemberontakan Persia dengan tangan besi, menegakkan stabilitas sekaligus memicu tanya: kekhalifahan atau awal menuju kerajaan?
Pelanggaran perjanjian di Khurasan, Jurjan, dan Tabaristan pada masa Utsman memicu ekspedisi militer besar. Riwayat klasik menunjukkan tarik-menarik antara stabilitas daerah taklukan dan politik pusat Madinah.
Kabilah-kabilah di Basrah dan Kufah bergerak liar di masa Utsman. Ketegangan sosial dan politik berpadu dengan seruan etika lingkungan yang justru menuntut keseimbangan di tengah badai fanatisme.
Ketika Romawi gagal merebut kembali Syam dan Irak, stabilitas politik tumbuh dari fondasi sosial yang mengakar. Di balik itu, etika lingkungan dalam ajaran Islam memperlihatkan dimensi kepemimpinan yang lebih luas.
Pada masa Khalifah Utsman, Syam, Irak, dan Mesir kembali stabil. Di balik politik yang mereda, terbaca etika kepemimpinan yang menjunjung harmoni sosial sekaligus akhlak lingkungan yang kini makin relevan.
Di balik ekspansi yang terus meluas, Utsman bin Affan menghadapi gelombang pembangkangan di Persia. Perjanjian dilanggar, para pemimpin lokal menolak tunduk, dan pasukan Muslim kembali turun ke gelanggang.
Pertempuran di Zat as-Sawari menjadi titik balik kekuasaan maritim Islam. Setelah kemenangan itu, Bizantium kehilangan kendali Laut Tengah. Kritik politik di Madinah ikut memanas.