Di bawah kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, pasukan Muslim untuk pertama kali menantang dominasi Bizantium di laut. Dalam gelombang yang memerah, lahirlah era baru: Islam sebagai kekuatan maritim.
Ia memimpin laut tanpa kehilangan satu kapal pun. Doanya menjaga pasukan, namun maut datang saat ia sendirian. Sejarah mencatat Abdullah bin Qais sebagai laksamana pertama Islam yang gugur jauh dari medan perang.
Ketika kekuasaan Islam melebar ke pesisir Afrika, ancaman dari laut kian nyata. Di tengah warisan kebijakan Umar dan desakan Muawiyah, Utsman bin Affan mengambil keputusan strategis yang mengubah sejarah maritim Islam.
Kisah silang kuasa antara Amr bin As dan Abdullah bin Sa'd membuka tabir politik awal Islam: tentang ambisi, kecurigaan, dan keputusan seorang khalifah yang mengubah peta kekuasaan Mesir dan Afrika Utara.
Di Naqyus, duel satu lawan satu mengubah arah pertempuran. Haumal tumbang sebagai syahid, namun keberaniannya menyalakan kembali api kemenangan pasukan Islam yang mengepung Romawi di Iskandariah.
Konstans II menyiapkan 300 kapal untuk merebut kembali Mesir dari tangan Muslim. Armada itu mendarat tanpa terdeteksi di Iskandariah. Inilah salah satu operasi militer paling berani pada abad ke-7.
Keputusan politik di Mesir, ketegangan elite Arab, dan kelengahan administratif membuka celah. Dari Iskandariah, orang-orang Romawi menulis ke Konstantinopel, memanggil kembali bayang-bayang Bizantium.
Begitu dilantik, Utsman bin Affan memilih meneruskan kebijakan Abu Bakar dan Umar. Di tengah gejolak daerah dan ancaman luar, sang khalifah ketiga lebih hati-hati ketimbang inovatif.
Di awal pemerintahannya, Utsman bin Affan menghadapi ancaman beruntun dari Persia dan Romawi. Kebijakan luar negerinya terpaksa mengikuti garis keras pendahulunya demi menjaga kedaulatan.
Di bawah bayang-bayang Snouck Hurgronje, kolonial Belanda berusaha memahami Islam sambil tetap mencurigainya. Dari politik pengawasan dan tafsir akademik yang bias, lahir kesadaran baru di kalangan Muslim Hindia.
Tragedi Cimareme 1919 mempertemukan dzikir dan peluru. Di balik doa Haji Hasan tersimpan perlawanan agraria dan kebangkitan politik Islam. Kolonial menanggapinya dengan darah, bukan keadilan.
Tragedi Cimareme 1919 membuka babak kelam antara kolonialisme dan kesalehan rakyat. Dari dzikir yang disangka pemberontakan hingga perpecahan Sarekat Islam, sejarah mencatat iman dan politik pernah bertarung di tanah Priangan.
Di awal abad ke-20, Islam di Hindia Belanda tak lagi sekadar urusan doa dan tarekat. Sarekat Islam menjelma kekuatan sosial baru yang membuat resah pejabat kolonial, misionaris, dan para orientalis Belanda.