LANGIT7.ID- Di sebuah sudut terjauh kerajaan Persia, di antara celah pegunungan terjal yang membentang hingga pantai Laut Kaspia, kisah penaklukan panjang itu mencapai babak penghabisan. Setelah Yazdigird III, raja terakhir dinasti Sasani, tewas dalam pelariannya—dengan narasi yang bersimpang-siur antara Tabari, Baladzuri, dan Ibn Ishaq—kekuasaan Persia runtuh bukan dalam teriakan perang, tetapi dalam sebuah keheningan: tiada lagi figur yang dapat mengangkat panji perlawanan.
Sejumlah sejarawan modern, seperti Parvaneh Pourshariati dalam Decline and Fall of the Sasanian Empire, melihat masa itu sebagai fase retaknya jaringan aristokrasi lokal Persia. Sentral kekuasaan terempas, provinsi-provinsi bergerak sendiri, sebagian memilih berdamai dengan ekspedisi Arab. Haekal, dalam Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan, merekam bagaimana setelah kematian Yazdigird, para bangsawan daerah tampak lebih nyaman bekerja dengan Muslimin daripada menumpuk kerugian dalam perlawanan yang tak jelas ujungnya.
Namun di Balkh dan lereng-lereng Bab, keadaan berbeda. Suku-suku Turki dan penduduk lokal yang terbiasa pada siklus pemberontakan menolak tunduk begitu saja. Kawasan itu tercatat dalam Tarikh al-Tabari sebagai tempat paling alot dihadapi pasukan Muslim. Ketika Abdur-Rahman bin Rabi'ah memimpin serangan ke wilayah itu, mereka balik menghantam: Abdur-Rahman terbunuh, pasukannya porak-poranda.
Kabar itu sampai ke Madinah. Khalifah Utsman, membaca gelagat buruk, mengkhawatirkan efek domino ke daerah-daerah lain yang baru saja tunduk. Ia mengirim dua wakil dari pusat-pusat kekuatan militer: Habib bin Maslamah dari Syam atas perintah Mu‘awiyah, dan Salman bin Rabi‘ah al-Bahili dari Kufah atas instruksi Sa‘id bin As. Di sinilah babak baru berlangsung: pasukan Syam dan Kufah untuk pertama kalinya berada dalam satu arena operasi, tetapi tidak dalam harmoni.
Kemenangan memang diraih. Baladzuri dalam Futuh al-Buldan mencatat bahwa Farj Balanjar takluk dengan paksa. Tetapi euforia itu terbelah oleh sengketa: siapa yang berhak memimpin, siapa yang berhak atas harta rampasan. Tabari menggambarkan bagaimana Salman ingin memimpin operasi yang telah lebih dahulu dipegang Habib—dan ditolak. Pihak Syam menuding pihak Kufah ingin menguasai operasi. Pihak Kufah membalas, siap menghadapi pertumpahan darah jika Habib dijadikan alasan dominasi.
Di tengah ketegangan, lahirlah syair yang menggoreskan jejak psikologi pasukan Kufah terhadap pasukan Syam:
Kalau kalian menghantam Salman akan kami hantam Habib kalianKalau kalian berangkat menemui Ibn Affan kami pun akan berangkat…Bagi sejarawan militer, seperti Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests, peristiwa ini bukan sekadar insiden lokal. Ia adalah tanda-tanda dini friksi politik yang kelak membesar menjadi konflik internal umat, yang pada masa-masa akhir pemerintahan Utsman semakin sulit dipadamkan. Di medan perang paling jauh dari Madinah, pasukan Muslim meraih kemenangan terhadap Persia, namun membawa pulang benih-benih perpecahan.
Dengan padamnya perlawanan Persia dan tewasnya perwira-perwira kunci di pihak lawan, bentang kekuasaan Islam meluas mencapai batas dunia lama Sasani. Tetapi dalam catatan Haekal, kemenangan itu menyisakan satu paradoks: wilayah bertambah stabil, sementara dinamika politik internal mulai bergejolak.
Perlawanan Persia berakhir, tetapi konflik baru—di antara pemenang—mulai tumbuh di akar ekspedisi itu sendiri.
(mif)