Fitch Ratings memproyeksikan pembiayaan perbankan syariah Indonesia tumbuh 10 persen pada 2026. Populasi muslim besar dan pasar unbanked jadi pendorong utama pertumbuhan.
Pakar ekonomi ITS Muhammad Ubaidillah mengungkap strategi mitigasi pelemahan rupiah yang tembus Rp17.600 per dolar AS, mulai dari penguatan UMKM hingga hilirisasi industri nasional.
Dosen UB Wildan Syafitri mengingatkan masyarakat tak panik saat rupiah melemah ke Rp17.000 per dolar AS. Ekspektasi pasar, capital outflow, dan ketergantungan impor jadi faktor utama.
Didik J Rachbini menilai keberhasilan Habibie menguatkan rupiah dari Rp16.800 ke Rp6.500 per dolar ditopang pemulihan kepercayaan pasar, reformasi institusi, dan independensi BI.
Ekonom Universitas Paramadina menilai pertumbuhan ekonomi RI 5,61 persen menyimpan banyak tekanan, dari rupiah melemah, utang membengkak, hingga kelas menengah yang makin tertekan.
Ekonom Didik J Rachbini menilai Indonesia tak akan keluar dari pertumbuhan ekonomi 5 persen tanpa deregulasi, reformasi birokrasi, investasi asing, dan lonjakan ekspor.
Bank Indonesia mengungkap penyebab rupiah tertekan, mulai dari konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, hingga kebutuhan dolar untuk haji, dividen, dan utang luar negeri.
Wacana windfall tax untuk menambah penerimaan negara hingga ratusan triliun dinilai perlu dikaji hati-hati karena berpotensi menekan investasi, menciptakan ketidakpastian hukum, dan mengganggu pembangunan jangka panjang.
Bank Indonesia telah menggelontorkan Rp427,9 triliun ke perbankan lewat insentif likuiditas untuk mendorong kredit ke UMKM, koperasi, pertanian, dan perumahan.
Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja solid pada triwulan I 2026 dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen (year-on-year). Capaian ini memperlihatkan ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih berlanjut.