Jika pada ayat 21 manusia diperintahkan untuk menyembah Rabb yang telah menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka, maka ayat 22 ini merinci kelayakan Allah untuk disembah melalui pemaparan nikmat-nikmat penciptaan serta pemeliharaan alam semesta.
?Ayat ini menutup rangkaian perumpamaan tersebut dengan penegasan kuasa mutlak Allah atas pendengaran dan penglihatan mereka, sekaligus menjadi peringatan keras bahwa keberadaan orang munafik sepenuhnya berada dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Allah menyatakan bahwa Dia membiarkan dan memberi tenggang waktu (yamudduhum) kepada kaum munafik dalam kedurhakaan mereka. Penangguhan siksaan ini sama sekali bukan bentuk kepedulian atau kebaikan dari Allah, melainkan pembiaran agar dosa-dosa mereka kian bertambah dan menumpuk.
Al-Quran menyediakan ruang bagi nalar manusia untuk menggali maknanya. Namun, di balik kebebasan interpretasi, ada batas otoritas dan kaidah ilmu yang menjaga agar pesan Tuhan tidak terdistorsi.
Kodifikasi tafsir menempuh perjalanan panjang dari tradisi lisan hingga menjadi disiplin ilmu mandiri. Jejaknya terekam mulai dari masa Nabi hingga pemisahan sistematis di tangan Al-Farra.
Tafsir Al-Quran berevolusi dari sekadar riwayat lisan menjadi laboratorium pemikiran yang kaya. Setiap zaman menawarkan sudut pandang unik, menjadikan wahyu tetap relevan sebagai kompas kehidupan.
Tafsir Al-Quran berkembang dari sekadar riwayat lisan menjadi belantara pemikiran yang kaya. Seiring perubahan zaman, makna ayat terus memancar bagai intan yang membiaskan cahaya di setiap sudutnya.
Pengetahuan manusia berkembang, tafsir ikut bergeser. Al-Quran tetap sama, tetapi pemahamannya menuntut keberanian merevisi tafsir lama tanpa menjadikannya tunduk pada sains.
Meluasnya tafsir ilmiah juga dipicu trauma sejarah Barat. Konflik gereja dan sains membuat sebagian cendekiawan Muslim tergesa membuktikan bahwa Islam bebas pertentangan.
Tafsir ilmiah Al-Quran berkembang pesat sejak abad ke-19. Ia lahir dari kegelisahan umat Islam menghadapi dominasi Barat dan hasrat membuktikan bahwa wahyu tidak kalah oleh sains modern.
Badan Pelaksana Pengelola (BPP) Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) memamerkan Kitab Digital karya 10 Ulama Nusantara, diantaranya Syekh Nawawi Al Bantani, Syaikhona Kholil