Dari laku empat puluh hari Musa hingga peringatan jatuhnya Yerusalem, puasa bagi kaum Yahudi adalah sebuah ritus kesedihan dan penebusan dosa yang berkelindan dengan sejarah panjang mereka.
Kewajiban puasa ternyata merupakan warisan tua yang melintasi berbagai risalah kenabian. Dari kebiasaan Dawud hingga hari kemenangan Musa, menahan diri adalah bahasa universal kaum bertauhid.
Sebagai rukun yang menyentuh relung paling pribadi, puasa berdiri tegak sebagai ibadah tanpa saksi. Ia adalah jembatan menuju takwa yang menuntut ketulusan mutlak di hadapan pengawasan Ilahi.
Berpijak pada tradisi madzhab yang panjang, pengertian shaum secara istilah melampaui sekadar menahan lapar. Ia adalah konstruksi hukum yang mengikat niat, waktu, hingga kualifikasi personal.
Larangan puasa setelah pertengahan Syaban menjadi rambu agar fisik umat tak loyo saat menyambut Ramadan. Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa, pintu puasa sunnah tetap terbuka hingga batas akhir.
Dari mimbar ke mimbar, dari ruang digital hingga majelis ilmu, bulan ini kembali dihidupkan dengan seruan amal saleh, tobat, dan puasa sunnahterutama pada hari Tasua (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).
Mendapati 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah salah satu nikmat besar dari nikmat-nikmat Allah. Manis dan lezatnya hari-hari ini hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang salih.
Ustaz Adi Hidayat mengungkap keistimewaan waktu sahar dan keutamaan istighfar. Pelajari bagaimana memaksimalkan waktu sahar untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih 3 keutamaan besar yang dijanjikan Allah SWT bagi mereka yang rajin beristighfar.