Di masa Utsman bin Affan, ekspansi cepat Islam memantik resistensi baru: bangsa-bangsa taklukan membaca kebangkitan Arab sebagai dominasi. Sentimen itu ikut menggerakkan pusaran politik yang berakhir tragis.
Kebijakan politik Utsman bin Affan memicu kegelisahan suku-suku Arab non-Quraisy. Dominasi elite Quraisy, terutama Bani Umayyah, menumbuhkan rasa terpinggirkan yang kelak menyulut gelombang oposisi di pusat-pusat garnisun Irak dan Mesir.
Dominasi politik Quraisy pada masa awal kekhalifahan memicu gelombang ketidakpuasan baru di Irak dan Syam. Para pejuang muda menuntut ruang kuasa yang lebih setara dari elite Mekah dan Madinah.
Ketidakpuasan Banu Hasyim atas pelantikan Usman bukan sekadar perebutan kuasa, tetapi luapan persaingan lama yang tak sepenuhnya padam sejak masa Nabibara tua yang kembali menyala di tengah ekspansi Islam.
Di balik stabilitas ekspansi Islam pada era Usman, tumbuh gerakan-gerakan senyap: saling curiga, ambisi suku, dan frustrasi sosialbara kecil yang kelak meledakkan kekhalifahan ketiga.
Di balik kemenangan demi kemenangan pasukan Islam awal, iman menjadi tenaga pendorong. Namun warisan lamatribalisme dan perebutan legitimasiperlahan menggembos stabilitas yang tampak kokoh pada era Usman.
Di tengah retaknya politik internal, pasukan Muslim tetap melaju. Persia dan Romawi tak lagi berdaya, bukan semata kalah strategi, tapi kehilangan jiwa. Islam muda justru menang karena gagasan yang masih menyala.
Kematian Yazdigird III memupus sisa perlawanan Persia. Di pinggiran Kaspia, api penentangan terakhir berkobar, berujung cekcok antar-pasukan Muslimpertanda retak awal di tubuh ekspedisi Syam dan Kufah.
Dikejar pasukan Arab dan dikhianati bangsawannya sendiri, Yazdigird III berakhir di rumah penggiling tepung Mirgab. Runtuhnya Sasanid menunjukkan sebuah dinasti mati bukan hanya oleh perang, tapi oleh retaknya kekuasaan dari dalam.
Di tengah runtuhnya hegemoni Persia, Yazdigird III berlarian dari satu wilayah ke wilayah lain. Bukan tombak Arab yang menghabisinya, melainkan intrik bangsawannya sendiri di tepian Sungai Mirgab.
Di Gedangan, Sidoarjo, 1904, darah tumpah di tanah tebu. Pemerintah kolonial menyebutnya pemberontakan fanatik. Tapi di balik revolusi Jawi itu, tersimpan letupan sosial dari dunia yang tengah berubah.
Terdesak di tanah sendiri, Yazdigird III mencoba merajut kembali mahkota Sassaniyah. Dari Samarkand hingga Merv, langkahnya dibayang-bayangi kecurigaan sekutu dan pembangkangan bangsanya sendiri.
Istakhr bergolak, Khurasan menyusul. Abdullah bin Amir menumpas pemberontakan Persia dengan tangan besi, menegakkan stabilitas sekaligus memicu tanya: kekhalifahan atau awal menuju kerajaan?