Regulasi haji di Indonesia merekam evolusi panjang dari sekadar instrumen kontrol politik kolonial yang penuh kecurigaan hingga bertransformasi menjadi urusan pelayanan publik yang kompleks dan berbiaya besar.
Di Gedangan, Sidoarjo, 1904, darah tumpah di tanah tebu. Pemerintah kolonial menyebutnya pemberontakan fanatik. Tapi di balik revolusi Jawi itu, tersimpan letupan sosial dari dunia yang tengah berubah.
Di awal abad ke-20, ketika Hindia Belanda berupaya memahami sekaligus mengendalikan Islam, seorang penasihat kolonial bernama Christiaan Snouck Hurgronje menjadi arsitek intelektual di balik kebijakan itu.
Dalam surat-suratnya di De Locomotief, Snouck Hurgronje tampil bukan hanya sebagai ilmuwan, melainkan sebagai wedana kolonial yang menulis dari atas menara kekuasaan.
Awal abad ke-17, pelaut Belanda mendengar Stofferolla di masjid Aceh dan menulisnya sebagai mantra. Di balik salah dengar itu, tersimpan kisah benturan iman, bahasa, dan kekuasaan.
Dari Syattariyyah hingga Naqsyabandiyyah, dari Kiai Lengkong sampai Mas Rahmatabad ke-19 menjadi panggung tarik-menarik antara Islam global dan laku mistik lokal yang membentuk wajah keislaman Jawa.
Di balik riuh perang kolonial, dakwah Islam di Nusantara bukan sekadar ibadah, tetapi bara perlawanan yang menyatukan umat, menguatkan iman, dan menyalakan api kemerdekaan.