Moderasi beragama adalah cara pandang dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik pemahaman agama yang sangat kaku maupun pemahaman agama yang sangat liberal.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menegaskan, moderasi tidak bisa disejajarkan dengan liberalisasi maupun westernisasi. Moderasi dalam bahasa Al-Qur'an adalah Islam sebagai rahmatan lil-alamin.
Adib mengatakan, makalah-makalah yang berhasil lolos untuk dipresentasikan pada ICROM 2022 ini juga akan berkontribusi sebagai sumbangan pemikiran untuk pemerintah dalam memantapkan langkah aktualisasi moderasi beragama ke depan.
Abu Rokhmad menjelaskan, ada empat indikator penting dalam moderasi beragama, salah satunya adalah bersikap toleran terhadap keragaman. Tiga indikator lainnya adalah komitmen kebangsaan, anti-kekerasan dan ramah terhadap budaya lokal.
Khatib Jumat juga sangat efektif dalam meredam hoaks, ujaran kebencian, dan adu domba antar sesama elemen bangsa. Karenanya, materi khutbah Jumat harus benar-benar memberi pencerahan dan tidak menimbulkan kebencian kepada kelo
Moderasi beragama dapat dilakukan dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.
Maksud dari umat pertengahan berdasarkan tafsir Imam Qurtubi, yakni pertama Allah hendak menjadikan umat Islam seperti ka'bah, yang bermakna pusat peradaban.
Semangat moderasi beragama adalah upaya mencari titik temu dua pandangan ekstrim. Pertama pandangan yang ultra-konservatif yang meyakini mutlak kebenaran agama dari satu teks dan menganggap tafsiran yang lain salah.
Menurut Yaqut, inti peringatan ini adalah merayakan keberagaman dan toleransi dalam wujud nyata serta untuk memastikan bahwa semua orang memahami pentingnya memberi ruang satu sama lain.
Sangat ironis, jika kemudian yang terjadi adalah kesalahpahaman dan kesalahkaprahan dalam memaknai dan mempraktikan moderasi beragama itu sendiri. Sehingga atas nama moderasi beragama malah bertindak ekstrim ke arah liberal dalam penafsiran dan pengamalan ajaran agama.