Pada tahap pertama, STID Mohammad Natsir menjalankan program kaderisasi berbasis asrama. Mahasiswa diwajibkan tinggal di asrama dalam rangka pembentukan karakter dai yang kuat, baik mental maupun spiritual.
Lokasi penugasan Kafilah Dawah Ramadhan 1443 H tersebar di seluruh Indonesia, di antaranya Nias Utara (Sumatra Utara), Lunang (Sumatera Barat), Tebing Tinggi (Kepulauan Meranti), Muara Jambi (Jambi), Enggano (Bengkulu).
Warisan kedua adalah keteladanan. Soal kepribadian Sang Bapak NKRI, Adian mengaku banyak mendapat refrensi dari beberapa murid Natsir dan orang-orang hebat yang hidup sezaman dengannya.
Buya Mahyeldi menyampaikan kegembiraan atas terpilihnya Sumbar sebagai tempat pelaksaan acara besar Dewan Dawah. Menurut dia, antara Islam dan Sumbar tidak bisa terpisahkan dengan dilihat dari nilai historis.
Pendiri dan pembangun Dewan Dakwah terdiri dari ulama pejuang, negarawan dan tokoh masyarakat muslim yang matang dalam perjuangan dan berpandangan jauh ke depan dengan komitmen keislaman dan keindonesiaan.
Hidayat memberi kesaksian bahwa Ustaz Syuhada Bahri sebagaimana namanya, yakni memiliki kesungguhan dalam berdakwah dan memiliki keluasan dan kedalaman ilmu seperti lautan.
Saat Ustaz Syuhada Bahri memimpin Dewan Da'wah, dia mencanangkan pengkaderan dai melalui tiga program utama, yaitu kader ulama, kader cendekia, dan kader mubaligh.
Selain mujahid dakwah, Ustaz Wahid Alwi menilai sosok almarhum sebagi seseorang yang berjiwa nasionalis sejati, seorang yang cinta NKRI, yakni dengan slogannya, Selamatkan Indonesia dengan Dakwah.
5 tahun seruangan dengan Pak Natsir di kantor DDII di Masjid Al-Munawarah, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dia mengakui Pak Natsir sebagai tokoh luar biasa dan pemimpin panutan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini melihat Ustaz Syuhada Bahri sebagai sosok yang tangguh. Almarhum dikenal sebagai pendakwah yang tegar dan sabar dalam menghadapi berbagai masalah sukar yang berkaitan dengan dakwah.
Sesajen menjadi simbol dan sarana negosiasi spiritual kepada hal-hal ghaib. Ini dilakukan agar makhluk halus di atas kekuatan manusia tidak mengganggu.