Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home sosok muslim detail berita

Syuhada Bahri, Dai Pelosok yang Terkenal Sederhana

Muhajirin Jum'at, 18 Februari 2022 - 20:00 WIB
Syuhada Bahri, Dai Pelosok yang Terkenal Sederhana
Ustadz Syuhada Bahri (foto: Antara)
LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) periode 2007-2015, Syuhada Bahri, meninggal dunia pada Jumat (18/2/2022) sekitar 04.00 WIB.

Dia sudah lama dalam kondisi tidak sehat. Beberapa waktu lalu, ia pernah dirawat di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta. Ia juga menjalani cuci darah secara rutin, meski begitu semangat dakwahnya tidak pernah surut.

Mengutip laman resmi DDII, Sekretaris Persatuan Da'i DDII, Ustadz Oma Rasyid, mengaku mempunyai kenangan tak terlupakan terhadap sosok Ustadz Syuhada Bahri. Dia menggambarkan Ustadz Syuhada sebagai sosok sederhana meski ia merupakan tokoh besar.

Saat duduk di pucuk pimpinan DDII, Ustadz Syuhada kerap menyempatkan diri blusukan menyapa umat. Bahkan, ia tak risih makan di warung nasi yang berada di basement Gedung Dakwah Pusat Jakarta.

"Beliau seringkali menyempatkan waktu ke bawah. Ke tempat warteg kecil di bagian basement Dewan Da'wah, Warteg Zainab. Beliau datang ke tempat itu bertemu dengan orang-orang kecil, bahkan beliau ngebayarin semua yang makan," kata Ustadz Oma.

Dai Pelosok Indonesia Kader Terbaik Moh. Natsir

Salah satu teladan penting Ustadz Syuhada Bahri adalah mengenai kiprah dan perjalanan dakwah beliau di pelosok Indonesia. Mengutip tulisan Nurbowo di Tabloid Suara Islam, beliau sudah bergelut ke dunia dakwah sejak 1070-an, baik sebagai guru agama di sekolah Muhammadiyah atau dai di berbagai daerah.

Bahkan, Ustadz Syuhada disebut sebagai salah satu kader terbaik Dr. Mohammad Natsir dalam penguasaan lapangan dakwah di Indonesia. Ia telah menjelajah hampir semua pelosok Indonesia.

Misalnya ketika di Timtim. Dia mengenal daerah ini sampai ke pelosok-pelosok. Maka itu, dia salah satu tokoh yang terpukul ketika Timtim lepas dari Indonesia. Selain itu, dia telah menjelajah daerah-daerah Mentawai, Nias, Maumere, Labuan Bajo, Sorong, Fakfak, Timika, Merauke Badui, Tobelo, Tanjung Soke, dan sebagainya.

Ustadz Syuhada mulai mengenal Pak Natsir setelah pindah ke Jakarta pada 1976 atau setahun setelah lulus dari Inisi (Institut Islam Siliwangi) Bandung. Ia bekerja sebagai salah satu pembantu Pak Natsir.

5 tahun seruangan dengan Pak Natsir di kantor DDII di Masjid Al-Munawarah, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dia mengakui Pak Natsir sebagai tokoh luar biasa dan pemimpin panutan. Ia bahkan diamani tugas sebagai penanggung jawab dakwah di wilayah III (Indonesia Timur) dan Koordinator Dai Nusantara.

Setelah selesai, Pak Natsir mengirim surat kepada Ustadz Syuhada melalui Ustadz Abdul Wahid Alwi agar langsung ke Mentawai. Kala itu, Mentawai masih bagian dari Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat.

"Saat itu saya berseloroh, Ustadz Muzayyin bajunya makin panjang karena ditugaskan ke Arab, sementara baju saya semakin pendek karena ditugaskan makin ke pelosok. Orang Mentawai kan cuma pakai kabit (cawat)," tutur Ustadz Syuhada.

Setelah lepas jabatan sebagai Ketua Umum DDII pada 2015, aktivitas dakwah ke pelosok-pelosok negeri dilanjutkan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP).

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)