LANGIT7.ID, Jakarta - Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) akan genap berusia 55 tahun pada Sabtu, 26 Februari 2022. Kementerian Agama mengucapkan selamat dan mengapresiasi kiprah Dewan Dakwah dalam pembinaan dai dan masyarakat.
“Saya mengucapkan syukur dan selamat Milad 55 tahun Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada tanggal 26 Februari 2022. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berdiri pada 26 Februari 1967 di Jakarta,” kata Sekretaris Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam, Fuad Nasar di Jakarta, Jumat (25/2/2022).
Fuad menyampaikan, perkumpulan dan organisasi dakwah seperti DDII memegang peran yang strategis untuk mengedukasi para dai dan membina masyarakat dengan dakwah yang bertolak dari niat ikhlas dan berbenteng di hati umat. Hal itu sesuai dengan gagasan besar pendiri Dewan Dakwah Mohammad Natsir.
Baca Juga: Pesan Ustaz Syuhada Bahri: Selamatkan Indonesia dengan DakwahPendiri dan pembangun Dewan Dakwah terdiri dari ulama pejuang, negarawan dan tokoh masyarakat muslim yang matang dalam perjuangan dan berpandangan jauh ke depan dengan komitmen keislaman dan keindonesiaan. Program-program dakwah, sosial, ekonomi dan pendidikan yang digarap oleh Dewan Dakwah adalah dalam rangka mengisi dan memperkuat misi agama Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Menurut Fuad, segenap jajaran Dewan Dakwah perlu merevitalisasi dan mereaktualisasi gagasan-gagasan besar para pendiri dan pendahulu organisasinya sebagai energi intelektual dalam menghadapi realitas masa kini dan masa depan.
Khittah Dewan Dakwah ialah “Dakwah Ilallah,” sebuah istilah yang sering disampaikan oleh allahu yarham Mohammad Natsir (1908 – 1993) semasa hidupnya. Dakwah dalam arti menyeru, mengajak, dan memanggil manusia kepada jalan Allah, kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dakwah Ilallah itu mempunyai makna yang inklusif dan universal.
“Saya ingin menggaris-bawahi pesan Mohammad Natsir pada tahun 1969 dalam suatu acara di Kementerian Agama, yang saya kira penting dan relevan dengan cara kita menghadapi tantangan dakwah dewasa ini. Di mana beliau waktu itu mensinyalir hal-hal yang menjadi kelemahan dakwah Islam di negara kita, seperti kurangnya riset dan analisa serta konsultasi dalam kegiatan dakwah,” ujar Fuad Nasar yang mengagumi tokoh M. Natsir.
Baca Juga: Kemenag Kenang Ustaz Syuhada Bahri: Ulama Zuhud, Dai Teladan di Indonesia Menurut Pak Natsir, lanjut Fuad, kita sudah punya madrasah, universitas-universitas, tetapi untuk melakukan dakwah kita perlu lebih dari itu. Pak Natsir seringkali menekankan bahwa untuk melakukan dakwah titik beratnya bukan semata-mata pada ilmu, tetapi yang lebih penting ialah kepribadian mubaligh (da’i) itu sendiri.
Dalam perubahan masyarakat yang dinamis, umat Islam tidak cukup hanya berdakwah dari mimbar masjid saja. Di samping itu perlu mengembangkan metode baru yang dilukiskan oleh para pemimpin Dewan Dakwah, yaitu “dakwah tanpa suara”, dakwah melalui tulisan dan perbuatan nyata atau da’wah bil hal. Dakwah melalui multi media, termasuk media digital, perlu dikembangkan oleh semua organisasi dakwah di Tanah Air.
Pendekatan dakwah diperlukan untuk membangun keadaban bangsa dan membebaskan sebagian umat yang masih berada dalam situasi keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Dakwah di era post-truth menuntut kematangan psikologis, intelektual, profesional, dan moral para dai dan penggiatnya.
“Saya mengajak kita semua untuk terus senantiasa memperkuat fundamen moral Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Fuad seraya menambahkan, dengan peran agama dan dakwah yang menyejukkan dan mempersatukan bangsa di bawah panji-panji Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana penjabaran maknanya bagi umat Islam adalah Tauhid.
Baca Juga: DPR RI Dorong Rusia-Ukraina Tempuh Jalur Diplomatik“Sekali lagi, saya sampaikan selamat milad 55 tahun Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Saya memandang organisasi ini memiliki sejarah yang mengesankan dan mempunyai resources secara kultural, intelektual serta jejaring sosial nasional maupun global,” ucap Fuad.
Dia berharap Dewan Dakwah dalam usianya yang sudah lebih dari setengah abad diharapkan lebih berkembang maju dalan menyongsong masa depan dan mengantisipasi perubahan dunia.
“Segenap elemen umat Islam perlu bersinergi mengembangkan syiar Islam melalui karya-karya ilmu pengetahuan, kebudayaan, pembangunan manusia, dan masyarakat yang berkeadaban menuju Baldatun thayyibatun warabbun ghafur,” demikian Fuad Nasar.
Baca Juga: 6 Tahapan Memperbaiki Bacaan Alquran(zhd)