Meskipun pengertian keadilan tidak selalu menjadi antonim dari kezaliman, 'adl yang berarti sama memberi kesan adanya dua pihak atau lebih, karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi persamaan.
Dari rangkaian ayat di atas, kata Quraish, terlihat bahwa keadilan akan mengarah pada ketakwaan, dan ketakwaan tersebut pada gilirannya akan mendatangkan kesejahteraan.
Tidak satu pun ayat maupun hadis yang menyebutkan secara pasti kapan waktu kedatangannya. Bahkan, secara tegas dinyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kiamat akan terjadi.
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapatkan rezeki. (QS Ali 'Imran 3: 169)
Qur'an tidak hanya menjelaskan tentang hari akhir, tetapi juga memberikan banyak informasi mengenai peristiwa-peristiwa menjelang dan sesudah kematian, termasuk kehidupan di alam barzakh.
Untuk membuktikan adanya kebangkitan, Al-Quran menceritakan apa yang dilakukan Allah terhadap seorang yang mempertanyakan tentang bagaimana kebangkitan.
Kemah-kemah para perusak sangat menyenangkan. Mereka yang mendurhakai Tuhan (tampak) tenang. Ini semua dilihat oleh mataku, didengar oleh telingaku dan kuketahui sepenahnya.
Menghadapi para pengingkar, Al-Qur'an seringkali mengemukakan alasan-alasan pengingkaran, baru kemudian menanggapi dan menolaknya. Hal demikian terlihat dengan jelas dalam uraian Al-Qur'an tentang hari akhir.
Ada dua hal pokok berkaitan dengan keimanan yang mengambil tempat tidak sedikit dalam ayat-ayat Al-Quran. Pertama uraian serta pembuktian tentang keesaan Allah, kedua pembuktian tentang hari akhir.
Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit, laksana duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras.
Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa kematian bukanlah ketiadaan hidup secara mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia.
Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur.