Qur'an tidak hanya menjelaskan tentang hari akhir, tetapi juga memberikan banyak informasi mengenai peristiwa-peristiwa menjelang dan sesudah kematian, termasuk kehidupan di alam barzakh.
Untuk membuktikan adanya kebangkitan, Al-Quran menceritakan apa yang dilakukan Allah terhadap seorang yang mempertanyakan tentang bagaimana kebangkitan.
Kemah-kemah para perusak sangat menyenangkan. Mereka yang mendurhakai Tuhan (tampak) tenang. Ini semua dilihat oleh mataku, didengar oleh telingaku dan kuketahui sepenahnya.
Menghadapi para pengingkar, Al-Qur'an seringkali mengemukakan alasan-alasan pengingkaran, baru kemudian menanggapi dan menolaknya. Hal demikian terlihat dengan jelas dalam uraian Al-Qur'an tentang hari akhir.
Ada dua hal pokok berkaitan dengan keimanan yang mengambil tempat tidak sedikit dalam ayat-ayat Al-Quran. Pertama uraian serta pembuktian tentang keesaan Allah, kedua pembuktian tentang hari akhir.
Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit, laksana duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras.
Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa kematian bukanlah ketiadaan hidup secara mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia.
Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur.
Muhammad Abduh (w. 1906 M) menyebut ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as pada surah al-Baqarah ayat 30 dan seterusnya, adalah tamsil. Tidak ada dialog antara Tuhan dengan Malaikat.
Manusia, melalui nalar dan pengalamannya tidak mampu mengetahui hakikat kematian, karena itu kematian dinilai sebagai salah satu gaib nisbi yang paling besar.
Kematian dalam pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi sekali, tetapi dua kali. Surat Ghafir ayat 11 mengabadikan sekaligus membenarkan ucapan orang-orang kafir di hari kemudian.
Kebijakan memopulerkan doa ini, dinilai oleh banyak pakar sebagai bertujuan politis, karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah.