LANGIT7.ID-
Al-Qur'an tidak hanya menjelaskan tentang hari akhir, tetapi juga memberikan banyak informasi mengenai peristiwa-peristiwa menjelang dan sesudah kematian, termasuk kehidupan di
alam barzakh. Kematian menjadi awal dari rangkaian hari akhir. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
"Siapa yang meninggal, maka kiamatnya telah bangkit."
Prof Dr M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "
Wawasan Al-Quran" menjelaskan kiamat ini disebut sebagai "kiamat kecil". Pada saat itu, orang yang meninggal dan semua yang telah wafat sebelumnya akan hidup dalam satu alam yang disebut alam barzakh. Mereka semua menanti datangnya kiamat besar, yang akan diawali dengan tiupan sangkakala pertama.
Allah SWT berfirman: "...
Sehingga apabila datang kematian kepada seorang di antara mereka (yang kafir), ia berkata: 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.' (Allah berfirman), 'Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (pemisah) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS Al-Mu’minun [23]: 99–100)
Baca juga: Kehidupan di Alam Barzah, Sekat antara Dunia dan Akhirat Secara bahasa, "barzakh" berarti pemisah. Para ulama menafsirkan alam barzakh sebagai 'masa peralihan antara kehidupan dunia dan akhirat'.
Dalam kondisi ini, seseorang dapat melihat ke belakang (kehidupan dunia) dan ke depan (kehidupan akhirat), seolah berada di sebuah ruangan terbuat dari kaca: mereka melihat kita di dunia dan sekaligus menyaksikan apa yang menanti di hari kemudian.
Al-Qur'an menggambarkan keadaan orang-orang kafir di alam barzakh sebagai berikut:
"
... Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh siksa yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan (nanti) pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat): 'Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'" (QS Al-Mu’min [40]: 45–46)
Sebaliknya, para syuhada digambarkan sebagai orang-orang yang hidup dan mendapatkan rezeki:
"
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS Al-Baqarah [2]: 154)
"
Jangan sekali-kali mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki." (QS Ali ‘Imran [3]: 169)
Baca juga: Kehidupan Manusia di Alam Barzah, Diperlihatkan Surga dan Neraka Sebagian orang menafsirkan “kehidupan” para syuhada ini sebagai kehormatan dan keharuman nama yang terus dikenang. Namun, jika demikian, mengapa Allah berfirman, "tetapi kamu tidak menyadarinya"? Bukankah keharuman nama justru dapat kita sadari? Lagi pula, apakah "kekekalan nama" dapat dianggap sebagai ganjaran istimewa? Sebab, bisa jadi ada orang yang dikenang secara harum, tetapi tidak mati dalam keadaan
fi sabilillah, dan dengan demikian tidak termasuk syuhada di sisi Allah.
Bagaimana pula dengan para syuhada yang tidak dikenal? Bukankah mereka juga hidup dan mendapat rezeki, sebagaimana janji Allah? Jika rezeki itu hanya berbentuk popularitas di dunia, maka di mana letak keadilannya bagi mereka yang tidak dikenal?
Cukup banyak ayat lain yang mengisyaratkan adanya kehidupan di alam barzakh. Misalnya, dalam QS Al-Baqarah (2): 28 dan QS Al-Mu’min (40): 11. Di sisi lain, ada juga ayat seperti dalam QS Ya Sin [36]: 52, yang menampilkan ucapan orang-orang kafir saat ditiupkan sangkakala pertama: "Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?"
Sebagian orang memahami ayat ini sebagai bukti bahwa orang-orang kafir hanya "tidur" tanpa mengalami kehidupan apa pun di alam barzakh. Jika mereka tidur, bagaimana bisa dikatakan bahwa ada kehidupan, siksa, atau nikmat kubur?
Namun, menurut Quraish Shihab, pandangan ini perlu dikaji lebih dalam. Ayat tersebut tidak menyebutkan "dari tidur kami", melainkan "dari tempat tidur kami"—yang dalam hal ini merujuk kepada kubur. Perlu juga dipahami bahwa "kubur" di sini bukan sekadar liang tanah, tetapi satu alam tersendiri yang keberadaannya tidak dapat dipahami secara kasat mata.
Baca juga: Al-Quran Menamai Hidup di Akhirat sebagai Al-Hayawan Kalaupun ayat tersebut dianggap sebagai ayat
mutasyabihat (yang maknanya tidak sepenuhnya jelas), maka ayat-ayat lain yang
muhkam (jelas) dapat dijadikan rujukan utama untuk menafsirkannya.
Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW juga banyak yang menjelaskan tentang alam barzakh, dengan kualitas riwayat yang beragam. Terlalu berisiko jika menolak konsep alam barzakh hanya karena satu atau dua ayat yang secara sekilas tampak berbeda.
Ketika putra Nabi, Ibrahim, wafat, beliau bersabda: "Sesungguhnya ada yang menyusukannya di surga." (HR Bukhari)
Imam Ahmad bin Hanbal, Ath-Thabarani, Ibnu Abi Ad-Dunya, dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi bersabda:
"Sesungguhnya orang yang meninggal mengetahui siapa yang memandikannya, yang mengangkatnya, yang mengafani, dan siapa yang menurunkannya ke kubur."
Baca juga: Beramal untuk Akhirat: Kunci Hidup Tenang dan Rezeki Lancar Imam Bukhari juga meriwayatkan: "Apabila salah seorang dari kalian meninggal, maka diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang tempat tinggalnya kelak. Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan (tempat) surga. Jika penghuni neraka, maka diperlihatkan (tempat) neraka. Lalu dikatakan kepadanya: 'Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu ke sana.'" (HR Bukhari)
(mif)