LANGIT7.ID, Jakarta - Betawi merupakan penduduk asli Jakarta. Namun kini, suku yang sangat identik dengan warna Islam itu semakin terpinggirkan. Pusat kota Jakarta kini jadi pusat bisnis hingga apartemen yang dihuni oleh orang-orang kaya dari luar Jakarta.
Jakarta cuma menyisakan sedikit tanah untuk kantong pemukiman Betawi seperti Condet, Pasar Baru, Palmerah, hingga Kwitang. Sisanya, sudah terpinggirkan ke daerah penyangga ibu kota seperti Tangerang, Depok, dan Bekasi.
Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPPIJ), KH Muhammad Subki, mengatakan, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk menjaga etnis Betawi.
“Ketika tidak ada kebijakan yang menjaga orang-orang Betawi, tentu mereka akan terkikis,” kata KH Subki saat berbincang-bincang dengan LANGIT7.ID di Jakarta Islamic Centre (JIC), Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: Mengenal Ciri Khas Ulama-Ulama Betawi dalam Mempelajari Islam
Meski begitu, KH Subki bersyukur dengan kebijakan Gubernur DKI Jakarta saat ini, Anies Baswedan, terkait budaya Betawi. Dia menyebut Anies sudah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menjaga dan melestarikan komunitas Betawi dan menjaga budaya Betawi.
“Saya pikir perlu sangat diapresiasi. Kemudian revitalisasi kampung-kampung, ada kampung Deret, ada kampung Susun, dan lain sebagainya,” ujar KH Subki.
Karena identiknya Betawi dengan Islam, terpinggirkannya etnis Betawi juga menggeser nilai-nilai Islam dari jantung Ibu kota. Berganti dengan kehidupan metropolitan yang hanya berorientasi pada materi dan uang.
Kiai Subki menegaskan, jika tidak ada langkah konkret menjaga komunitas Betawi, maka bukan hanya orang Betawi saja yang terpinggirkan, tapi juga masjid turut tergusur. Tidak mungkin ada sebuah masjid berdiri tanpa diisi jamaah. Terlebih jika kawasan itu berganti menjadi lahan gedung-gedung tinggi.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Perjuangan Fatahillah di Masjid Al-Alam Marunda
“Maka, saya pikir mempertahankan komunitas Betawi itu menjadi PR besar bagi pemerintahan DKI Jakarta. Di mana-mana orang dipelihara, dicagarbudayakan. Makanya, Alhamdulillah kalau kebijakan sekarang itu kan tidak gusur-gusur, lebih mengedepankan dialog. Itu langkah bagus,” ujar KH Subki.
Dia tidak menafikan perkembangan kota yang begitu pesat akan menghadirkan masyarakat majemuk dan multikultural. Namun jika budaya lokal tidak dijaga dan dipertahankan lama kelamaan akan hilang.
“Tapi, saya pikir di beberapa spot itu, khususnya spot-spot keIslaman seperti di Kwitang, Bukit Duri, masih terpelihara. Tinggal bagaimana kemudian menumbuhkan minat masyarakat untuk sama-sama mempertahankan itu,” kata KH Subki.
Ulama Betawi juga memiliki peran penting dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan komunitas Betawi maupun budayanya. Bagaimanapun, kedudukan ulama bagi orang Betawi sangat tinggi.
Baca Juga: 22 Nama Jalan di Jakarta Diubah Gubernur Pakai Nama Tokoh Betawi
“Ulama Betawi sendiri, alhamdulillah masih ada. Memang ada semacam kekurangan, makanya ulama-ulama Betawi itu bisa mengembangkan keulamaannya, atau kajian-kajian keislamannya lebih masif lagi,” ujarnya.
Ulama Betawi juga kian berkurang saat ini. Dulu masih ada KH Abdullah Syafi’i hingga putranya KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i yang aktif berdakwah melalui lembaga Asy-Syafi’iyah di Jatiwaringin dan Tebet. Namun, beliau sudah meninggal dunia pada Sabtu, 10 Juli 2021 lalu.
“Alhamdulillah, kita masih punya KH Syukron Ma’mun, walaupun sekarang sudah sepuh dan pindah ke pinggiran. Jadi, saya pikir keulamaan Betawi harus didorong terus, agar sanad-sanad ulama Betawi tetap terjaga,” ungkap KH Subki.
Baca Juga: Dr Muhammad Ardiansyah, Ulama Muda yang Mempertahankan Tradisi Ngaji ala Betawi(jqf)