LANGIT7.ID, Jakarta - Ulama Betawi mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran, peletakan dasar-dasar, dan pembentukan budaya Islam di Betawi pada abad ke-19. Mereka aktif mengajar nilai-nilai Islam kepada masyarakat di Betawi, suku asli yang tinggal di Jakarta, maupun pendatang.
Selain itu, di Jakarta banyak masjid dan musollah dibangun di atas tanah wakaf. Sejak dulu orang Betawi suka mewakafkan tanah untuk kepentingan umat Islam. Mereka yakin masjid memiliki peranan penting dalam pendidikan Islam. Ini bisa dimaknai bahwa orang Betawi berperan besar dalam pembangunan karakter khususnya di bidang keagamaan, baik di Jakarta maupun di lingkup nasional.
Direktur Pondok Pesantren at-Taqwa Depok, Dr Muhammad Ardiansyah, tidak menampik bahwa ulama Betawi memiliki ciri khas tersendiri. Pria kelahiran Mei 1983 itu merupakan salah satu orang yang merasakan budaya belajar agama Islam di Tanah Betawi. Meski tak pernah mondok, ia pernah berkeliling dan berkunjung ke ulama-ulama ternama Betawi untuk menimba ilmu.
Pria kelahiran Jakarta itu pernah berguru Ustadz Mas'ud (alm), Ustadz Mujtaba (alm), Ust Agus Firdaus, KH Ahmad Musthofa ibn KH Abdurrahman Tua, KH Abdillah (alm), KH Jamaluddin Abdullah, hingga kepada Guru Ulama se-Jakarta yang akrab disapai Muallim, KH Muhammad Syafi’I Hadzami, dan masih banyak lagi. Ia duduk di depan ulama-ulama tersebut mengkaji kitab-kitab islami dalam bidang ilmu fikih, akidah, tafsir, dan lain sebagainya.
Tradisi semacam ini sudah melekat pada orang Betawi. Para ulama biasa dipanggil dengan sebuta Guru. “Maka kita kenal ada Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Majid Pekojan, Guru Marzuki Muara, dan Guru-guru lainnya. Hanya memang, panggilan itu belakangan kurang terdengar lagi. Kebanyakan orang langsung menyebut Kyai saja,” ucap beliau kepada LANGIT7.ID, Jakarta, Kamis (15/7/2021).
Dr Ardiansyah membenarkan bahwa Betawi sangat identik dengan Islam. Kalau dalam lagu Si Doel Anak Sekolahan, anak Betawi itu kerjaannye, sembahyang mengaji. “Nah, kalau anak mudanya saja begitu, apalagi Kyainya, Guru-gurunya?” ucapnya.
Tradisi menuntut ilmu di Betawi memang sedikit berbeda tradisi belajar di pulau Jawa pada umumnya. Kalau di Jawa, tradisi menuntut ilmu yang mendalam biasanya di pesantren. Berbeda dengan Betawi, belajar agama di rumah-rumah Guru. Persis dengan yang dilakukan Dr Ardiansyah, yang bahkan sampai saat ini masih ikut ngaji kepada KH Ahmad Marwazi, murid dari Syekh Yaasin al-Fadani, Ahli Hadits besar keturunan Padang yang tinggal dan wafat di Mekkah.
“Kalau di Betawi, di rumah Guru-guru itu. Saya pribadi misalnya, sejak kecil diantar ke rumah Guru-guru ngaji kampung di dekat rumah. Belajar membaca al-Qur'an, baca kitab Arab-Melayu, ngaji aqidah, fikih, tasawuf ilmu-ilmu lainnya. Ilmu alat seperti nahwu-shorof juga diajarkan. Ilmu silat juga saya pernah dapat dari sebagian guru,” kata beliau.
Itu menjadi jawaban penyebab tidak banyak pesantren yang berdiri di Jakarta, karena tradisi belajar Islam orang Betawi mendatangi Guru di rumah mereka. Meski tak tinggal dalam satu kompleks tertentu dengan Guru, orang mereka tetap memegang teguh adab-adab Islam saat berhadapan dengan pendidik.
“Misalnya, cium tangan guru, khidmah kepada guru, dan sebagainya. Saya pribadi, kenyang khidmah kepada Guru-guru selama ngaji dulu. Jadi meski nggak mondok, hubungan antara Guru dan Murid bisa tetap dekat. Karena sehari-hari ya kami ketemu, dan sering bantu guru di rumahnya,” ucap dia.
Geanologi Ulama di BetawiTerkait genealogi ulama di Betawi, Dr Ardiansyah mengaku belum menemukan rujukan terkait sosok yang mengawali, mengakhiri, dan mewarisi. Namun, sudah masyhur di telingah masyarakat nama Syekh Abdurrahman al-Mishri al-Batawi yang merupakan sahabat Syekh Abdusshamad al-Falimbani dan Syekh Arsyad al-Banjari. Kemudian ada juga Habib Utsman bin Yahya yang dikenal sebagai Mufti Betawi pada masanya. Kitab-kitab beliau banyak tersebar dalam bahasa Arab-Melayu.
Kemudian ada juga Habib Ali Kwitang yang dikenal sebagai Guru Ulama Jakarta pada masanya. Majlisnya sampai hari ini masih berjalan tiap hari Ahad pagi. Ulama sezaman dan kawan akrab Habib Ali Kwitang adalah Guru Marzuki Cipinang Muara. Ada juga Guru Manshur Jembatan Lima. Beliau ini dikenal dengan Guru Manshur al-Falaki karena ahli astronomi. Ada 19 karya beliau dalam bidang ini yang ditulis dalam bahasa Arab. Ada juga Guru Mughni, Kuningan, Guru Mahmud Romli, Menteng. Guru Kholid Gondangdia, dan Guru Majid Pekojan.
Generasi berikutnya ya ada KH Noer Ali, Bekasi, KH Muhajirin Amsar Bekasi, KH Abdullah Syafi'i, KH Muhammad Syafi'i Hadzami, KH Zayadi Muhajir, KH Ahmad Mursyidi dan sebagainya. Hari ini yang masih ada antara lain KH Maulana Kamal Yusuf Paseban, KH Bunyamin Kebon Jeruk, KH Mahfuzh Asirun, dan lain lagi. Semoga Allah jaga para ulama.
(asf)