Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Tak Sembarangan, Ini 3 Ciri Ulama Menurut Al-Qur'an

Muhajirin Selasa, 17 Januari 2023 - 19:43 WIB
Tak Sembarangan, Ini 3 Ciri Ulama Menurut Al-Qur'an
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Ulama digambarkan sebagai ahli waris para nabi. Tidak hanya dari segi ilmu, tapi para ulama perlu mewarisi akhlak mulia Rasulullah SAW. Akhlakul karimah itulah yang menyentuh hati banyak orang untuk beriman dan bertakwa kepada Allah.

Akhlak sangat penting di era globalisasi saat ini. budaya-budaya asing merebak di tengah masyarakat, sehingga nilai-nilai agama dan budaya luhur kadang dihilangkan demi terlihat modern. Posisi ulama sangat penting dalam hal ini untuk menjaga nilai-nilai Islam tetap dijalankan di tengah masyarakat.

Ustadz Adi Hidayat mengatakan, sangat mudah menemukan orang-orang yang mengaku sebagai ulama. Akan tetapi, sangat susah mendapatkan ulama-ulama yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Setidaknya ada tiga ciri ulama dalam Al-Qur’an, di antaranya:

1. Memiliki Sifat Khasyyah

Ulama pasti memiliki sifat khasyyah. Khasyyah adalah ketakutan yang dalam kepada Allah yang dibangun dari ketakwaan yang tinggi. Ini bisa dilihat dalam Surah Fatir ayat 7-28.

Baca Juga: Syaikh Yasin Al-Fadani: Ulama Rujukan Hadits Sedunia, Dermawan Meski Tak Kaya

“kalau ada orang yang punya khasyyah yang tinggi kepada Allah, di antaranya adalah kalangan ulama,” kata UAH dalam kajian Kitab Adabul Alim wal Muta’allim, dikutip Senin (16/1/2023).

Al-khasyyah
dilahirkan dari takwa. Takwa dan turunannya disebutkan dalam 240 kali dalam Al-Qur’an. Ada bab rumah tangga, bab akidah, fikih, dan lain sebagainya. Di antaranya disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 9. Ayat tersebut secara spesifik menyebutkan takwa dalam rumah tangga atau hubungan antara ayah dan anak.

“Takwa itu wasilah dari semua persoalan. Kalau sedang punya masalah, atau tidak ada persoalan pun, tingkatkan takwa, nanti apa yang akan kita alami dari ujian kehidupan diringankan oleh Allah, sehingga tidak seakan-akan tidak masalah. Sehingga, hatinya lapang menerima apapun. Takwa itu tawassul paling tinggi yang disebutkan dalam Al-Qur’an,” ungkap UAH.

Salah satu penguat takwa itu adalah istikamah atau konsistensi. Ulama tentu sudah menjadi guru masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, ada konsistensi yang harus dijaga. Misal, siang mengajar, malam bangun shalat Tahajud untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga: Syekh Yusuf Al-Qaradhawi, Sosok Ulama Tegas di Hadapan Penguasa

“Harus ada konsistensi dalam bertakwa. Nanti dikasih dunia pindah fatwa. Khasyyah itu menjaga nilai-nilai ketakwaan. Sehingga fatwanya konsisten, perilakunya bisa ditiru, dan ketika mengajar pun sampai ke hati muridnya,” tutur UAH.

2. Senang Muthola'ah

Ulama harus senang mutholaah yakni mengkaji atau meriset ilmu pengetahuan. Guru terbaik adalah murid yang senang menuntut ilmu. Al-Qur’an pun menyinggung dua kategori ulama. Satu untuk diikuti, dan satunya lagi untuk ditinggalkan. Ada ulama ahlul kitab dan ahlul proposal.

“(Ulama ahlul proposal) itu disindir oleh Allah agar tidak mengikuti ulama yang senang mencari dunia,” ucap UAH.

Ada pemuka agama yang sering melakukan manipulasi. Kadang menulis tidak benar hanya untuk mencari keuntungan duniawi. Kadang memalsukan ayat atau memotong ayat untuk kepentingan duniawi supaya kedudukan atau harta.

Baca Juga: Hamid Fahmy Zarkasyi: Ini Teladan Ulama tentang Minat Baca

“Sekarang sudah ditemukan tuh, ada orang memotong ayat untuk mengatakan semua agama sama. Jadi ketidakpahaman dia menjadikan kita dipaksa mengikuti kebodohannya. Itu yang harus kita koreksi. Maka ulama harus terus mengkaji,” ungkap UAH.

3. Memiliki Akhlak Mulia

Ajaran pokok Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan Akhlak. Pujian pokok Allah kepada Rasulullah pun terkait akhlak karimah. Aisyah RA ketika ditanya perkara akhlak Rasulullah, maka dijawab akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

“Sungguh di antara tugasku yang paling pokok untuk menyempurnakan akhlak. pujian Allah kepada Nabi Muhammad paling pokok adalah akhlak karimah. Ini yang menjadikan sikap nabi mudah diterima oleh orang-orang di sekitarannya,” ujar UAH.

Akhlak itu yang membuat Rasulullah SAW mudah diterima oleh masyarakat dunia. Bukan hanya 14 abad lalu. Tapi, sampai saat ini, Rasulullah terus menjadi role model akhlak karimah. Sampai hari kiamat, Rasulullah akan menjadi contoh dalam perkara akhlak.

Baca Juga: Teladan Gus Dur Bawa Islam Jadi Rahmat untuk Semesta Alam

“Ayat yang disampaikannya sudah menyentuh hati, tapi melihat akhlaknya orang masuk Islam. kebanyakan orang yang masuk Islam awal itu karena percaya dengan akhlak nabi,” ujar UAH.

Para ulama tentu banyak berdakwah, tapi sikap atau akhlak yang banyak berpengaruh. Masyarakat akan mudah mengikuti ulama-ulama yang tak hanya berbicara ayat saja, tapi ayat-ayat itu tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.

“Ketika punya akhlak mulia seperti lembut dan tutur kata baik, memberikan keteladanan, itu yang akan menjadikan orang itu yakin. Sekalipun tidak banyak dia mengucapkan fatwa,” tutur UAH.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)