LAGIT7.ID-Suatu malam, dalam lingkaran
zikir yang dibalut syair dan irama, seorang sufi muda terjatuh. Bukan karena lelah, tapi karena terbakar
ekstase. Ia menjerit pelan lalu menangis dalam pelukan langit. Wajahnya bersinar seperti lilin yang meleleh oleh cahaya, bukan oleh panas.
“Lidahnya diam,” kata sang mursyid, “tapi hatinya menyanyi.”
Bagi dunia
tasawuf, tarian dan musik bukan sekadar seni hiburan. Ia adalah bahasa lain dari jiwa—medium yang membangkitkan cinta, rasa syukur, ketakjuban, dan kadang, kehancuran ego. Tapi di sisi lain, tak sedikit yang mencibirnya sebagai biang bid’ah, atau bahkan—na’udzubillah—jalan kesesatan yang dilapisi keindahan.
Maka pertanyaan klasik pun kembali: apakah musik dan tarian dapat menjadi ibadah? Atau justru godaan syaitan yang menyaru sebagai cinta?
Dalam Kimia Kebahagiaan, karya Imam Al-Ghazali yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Ashraf Publication, Lahore, Mei 1979, dan diterjemahkan oleh Haidar Bagir, sorotan tajam dilayangkan kepada dua kutub. Di satu sisi adalah kaum Zhahariyyah, golongan yang mengharamkan musik dan menolak kemungkinan cinta spiritual kepada Allah. Di sisi lain adalah para sufi, yang menjadikan musik sebagai bara cinta yang menyala-nyala.
Baca juga: Bukan Seruling Setan: Membaca Ulang Musik dan Tarian dalam Laku Sufi Imam Al-Ghazali “Musik dan tarian,” tulis Al-Ghazali, “tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati, tapi hanyalah membangunkan emosi yang tertidur.”
Emosi itulah yang dalam tradisi sufi bisa berupa cinta kepada Tuhan, kerinduan akan kampung halaman rohani, atau kegembiraan karena merasa dekat dengan al-Haqq.
Ekstase atau Kelalaian?Di kalangan sufi, praktik semacam sama’—yakni mendengarkan nyanyian spiritual dengan penghayatan mendalam—bukanlah untuk semua orang. Bahkan Syaikh Abul Qasim Jirjani memberi syarat ketat kepada murid yang ingin ikut dalam tarian mistik: berpuasa tiga hari, lalu diuji dengan godaan makanan enak. Jika masih memilih sama’, barulah layak.
Ekstase dalam tasawuf bukan sekadar joget keagamaan. Ia adalah keadaan kehilangan diri dalam lautan makrifat. Syaikh Abul Hasan Nuri, misalnya, disebut pernah mati setelah berlari dalam ekstase di tengah ladang tebu hingga kakinya berdarah. Namun di sinilah batas yang digaris: kehilangan kesadaran bukan pembenaran bersatu dengan Tuhan, sebagaimana bayangan di cermin bukanlah cermin itu sendiri.
Baca juga: Imam Al-Ghazali Peringatkan tentang Siksaan Jiwa yang Dimulai di Dunia Syair dan Simbol-Simbol RahasiaSyair-syair yang dibacakan dalam majelis sufi sering kali mengandung ungkapan-ungkapan yang di permukaan tampak erotis atau duniawi: tentang kekasih, anggur, ciuman, dan mabuk. Tapi bagi sufi, ini hanyalah kiasan.
Mabuk adalah ekstase. Wajah indah adalah pancaran jamal Ilahi. Rindu adalah keterpisahan dari kampung halaman ruhani.
“Mungkin sudah kuatur anggur beribu takaran, tapi sampai ‘kau habis mereguknya, tiada kegembiraan kaurasakan.”
Syair ini, kata Al-Ghazali, bukan mengajak minum anggur dunia, tetapi mengisyaratkan bahwa pengalaman spiritual tak bisa dibeli dengan perintah atau dogma. Ia harus dirasakan, diteguk sendiri, dengan cinta dan kerinduan.
Bahaya Ketika Nada Kehilangan MaknaNamun tak semua musik bisa disebut sakral. Bahkan Nabi ﷺ pernah melarang sekelompok penyanyi gadis memuji beliau dengan nyanyian di rumah putri Mu’adz. “Biarkan mereka berhenti,” kata Nabi, “karena pujianku bukan untuk diperdagangkan dalam nada-nada dunia.”
Bahaya lainnya adalah ketika ayat-ayat al-Qur’an dipakai seperti syair. Tafsir liar bisa membawa kesesatan. Ayat-ayat seperti “Engkau berubah dari kecenderungan-semulamu” tak boleh diarahkan kepada Allah, karena Tuhan tak berubah. Ucapan seperti itu harusnya diarahkan kepada manusia sendiri.
Baca juga: Surga Tanpa Taman, Neraka Tanpa Api Menurut Imam Al-Ghazali Bahkan keakraban yang berlebihan dengan al-Qur’an pun bisa meredam pengaruhnya. Ketika para Badui Arab pertama kali mendengar al-Qur’an, mereka menangis. Tapi Abu Bakar berkata, “Kami dulu seperti mereka. Tapi kini hati kami telah mengeras.” Karena itu pula, Umar bin Khattab menyuruh para peziarah haji segera meninggalkan Makkah agar jangan kehilangan rasa takjub karena terlalu terbiasa.
Keindahan yang Membawa KesadaranImam Al-Ghazali menyimpulkan, musik dan tarian bukan untuk semua orang. Jika ia membangkitkan syahwat dunia, ia terlarang. Jika ia sekadar hiburan, ia mubah. Tapi jika ia membangunkan cinta kepada Allah—yang telah tertanam di dalam hati—maka ia menjadi jembatan rohani.
Sama seperti rumput hijau dan air mengalir, keindahan bisa jadi tanda Ilahi, jika hati terbuka. Tapi bisa juga jadi candu, jika hati gelap.
Baca juga: Cermin Diri, Cermin Tuhan: Renungan Sufi dari Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali “Orang yang tak pernah merasai ekstase sufi,” tulis Al-Ghazali, “seperti orang buta yang diminta menjelaskan warna hijau. Ia akan menyangkal karena ia tak bisa melihatnya. Tapi orang bijak tak akan menolak hakikat sesuatu hanya karena belum mengalaminya.”
Dalam dunia yang riuh oleh suara sumbang, para sufi tetap menari dalam sunyi. Tidak semua orang paham, bahkan tidak semua boleh ikut. Tapi selama api cinta itu ada, dan hati bergetar oleh satu bait, satu irama, satu gema keindahan—maka musik masih bisa menjadi doa. Tarian masih bisa menjadi ibadah.
Dan langit, mungkin sedang ikut berdendang.
(mif)