Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home masjid detail berita

Bismi Rabbik: Membingkai Ilmu dalam Pandangan Al-Quran

miftah yusufpati Selasa, 30 September 2025 - 04:15 WIB
Bismi Rabbik: Membingkai Ilmu dalam Pandangan Al-Quran
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- “Bacalah dengan nama Tuhanmu.” Wahyu pertama itu bukan hanya menandai lahirnya tradisi intelektual Islam, tetapi juga meletakkan tujuan pencarian ilmu: bukan sekadar tahu, melainkan bernilai Ilahi.

Prof.Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan) mencatat, sejak awal Al-Quran menolak semboyan ilmu demi ilmu. Titik tolak dan tujuan ilmu, menurutnya, harus bismi Rabbik—demi Allah dan untuk kemaslahatan makhluk.

Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan Grand Syaikh Al-Azhar, menafsirkan seruan itu sebagai perintah agar ilmu diabdikan kepada kesejahteraan manusia. “Allah tidak butuh apa pun dari ilmu manusia. Justru manusialah yang membutuhkan Allah,” ujarnya.

Oleh karena itu, sains yang dikembangkan tanpa nilai—sering disebut bebas nilai—perlu diberi bingkai Rabbani. Ilmu yang tidak bermanfaat dipandang sia-sia, bahkan berbahaya. Nabi Muhammad Saw. berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

Dalam tradisi Islam, akal dipakai untuk mengurai fenomena alam, sementara hati menembus dimensi metafisika. Upaya spekulatif untuk membongkar rahasia gaib justru dianggap melampaui batas.

Menariknya, Al-Quran menggunakan redaksi berbeda saat menjelaskan langit dan bumi. QS Al-Baqarah [2]: 164 menutup ayat dengan, “Sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ya‘qilun).” Sedangkan QS Ali-‘Imran [3]: 190 berakhir dengan, “Terdapat tanda-tanda bagi ulil albab.”

Quraish Shihab membaca perbedaan itu sebagai tingkatan manfaat ilmu. Al-Quran menyebut setidaknya delapan kategori orang yang bisa memetik pelajaran dari fenomena alam: mereka yang berpikir (yatafakkarun), mengetahui (ya‘lamun), mengambil pelajaran (yatazakkarun), memahami (ya‘qilun), mendengarkan (yasma‘un), meyakini (yuqinun), beriman (al-mu’minun), dan mengetahui secara mendalam (al-‘alimin).

Ilmu, dengan demikian, bukan sekadar alat untuk menguasai, melainkan sarana berlapis: memahami, merenung, mengambil pelajaran, hingga meneguhkan iman.

Di era ketika ilmu kerap dipersembahkan untuk kepentingan industri atau politik, pesan ini kian relevan. Ilmu yang benar, menurut Al-Quran, bukanlah yang menjauhkan manusia dari Sang Pencipta, melainkan yang mengantar pada kesadaran tertinggi: bahwa ilmu harus bermanfaat—bagi manusia, semesta, dan untuk Allah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)