Haruskah Puasa Arafah Berdasarkan Waktu Saudi? Ini Penjelasan Ulama
Andi Muhammad
Ahad, 03 Juli 2022 - 12:00 WIB
Wakil Ketua Umum PP Persis KH Jeje Zaenudin. Foto: Istimewa.
Perdebatan terkait puasa sembilan Zulhijah, apakah mengikuti waktu wukuf di Arafah Arab Saudi atau waktu Tanah Air menjadi perbincangan hangat masyarakat akhir-akhir ini. Menurut Wakil Ketua Umum PP Persis Ustaz Jeje Zaenudin, pada dasarnya Hari Arafah merupakan penyebutan untuk tanggal, yakni tanggal sembilan Zulhijah bukan merujuk pada ada yang wukuf ataupun tidak.
"Perintah puasa Arafah sendiri merupakan 'Shaum Arafah' yang bermakna 'puasa pada hari Arafah' bukan karena adanya aktivitas wukuf di Arafah. Dari sini dapat disimpulkan bila Arafah merupakan tempat dan aktivitas wukuf menjadi syaratnya, maka puasa Arafah dilaksanakan apabila ada yang wukuf di Arafah," kata Ustaz Jeje dikutip dari laman Persis Jakarta, Ahad (3/7/2022).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa negara-negara yang dihuni umat Muslim terbagi menjadi dua wilyah, yakni tempat munculnya hilal dan yang tempat yang terkadang tidak berbarengan. Kemunculan hilal tidak menetap pada ketinggian posisi setiap awal bulannya. Maka dari itu terpaut sampai dua belas jam antara negeri Muslim wilayah Timur dengan Wilayah Barat.
Baca Juga:Jeje Zaenudin: Penutupan Holywings Bukan Berarti Akar Masalah Selesai
Apabila puasa Arafah benar-benar ditentukan dengan adanya aktivitas wukuf di Arafah yang berlangsung enam jam dari waktu Dzuhur hingga Maghrib, maka jika ada kaum Muslimin di wilayah Amerika yang berbeda waktu tujuh sampai delapan jam, mereka tidak bisa menunaikan puasa Arafah dikarenakan wukuf sudah selesai.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Siapa di antara kamu yang sudah melihat Hilal Dzulhijah dan hendak berqurban, maka janganlah ia mencukur rambut dan jangan menggunting kukunya." (HR Muslim).
"Dalam hadits di atas berlaku untuk seluruh umat Muslim di penjuru dunia, bukan hanya di Arab Saudi," tuturnya.
"Perintah puasa Arafah sendiri merupakan 'Shaum Arafah' yang bermakna 'puasa pada hari Arafah' bukan karena adanya aktivitas wukuf di Arafah. Dari sini dapat disimpulkan bila Arafah merupakan tempat dan aktivitas wukuf menjadi syaratnya, maka puasa Arafah dilaksanakan apabila ada yang wukuf di Arafah," kata Ustaz Jeje dikutip dari laman Persis Jakarta, Ahad (3/7/2022).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa negara-negara yang dihuni umat Muslim terbagi menjadi dua wilyah, yakni tempat munculnya hilal dan yang tempat yang terkadang tidak berbarengan. Kemunculan hilal tidak menetap pada ketinggian posisi setiap awal bulannya. Maka dari itu terpaut sampai dua belas jam antara negeri Muslim wilayah Timur dengan Wilayah Barat.
Baca Juga:Jeje Zaenudin: Penutupan Holywings Bukan Berarti Akar Masalah Selesai
Apabila puasa Arafah benar-benar ditentukan dengan adanya aktivitas wukuf di Arafah yang berlangsung enam jam dari waktu Dzuhur hingga Maghrib, maka jika ada kaum Muslimin di wilayah Amerika yang berbeda waktu tujuh sampai delapan jam, mereka tidak bisa menunaikan puasa Arafah dikarenakan wukuf sudah selesai.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Siapa di antara kamu yang sudah melihat Hilal Dzulhijah dan hendak berqurban, maka janganlah ia mencukur rambut dan jangan menggunting kukunya." (HR Muslim).
"Dalam hadits di atas berlaku untuk seluruh umat Muslim di penjuru dunia, bukan hanya di Arab Saudi," tuturnya.