home masjid

Ramadhan Bercahaya

Menemukan Indonesia di Era Kepalsuan, Kembali ke Otoritas Ilmu dan Adab

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:00 WIB
Menemukan Indonesia di Era Post-Truth: Mengembalikan Otoritas Ilmu dan Adab. Foto: RDK UGM.
Saat ini, di masa yang disebut sebagai Post-Truth, era "pasca-kebenaran" atau era kebohongan, emosi dan opini populer jauh lebih laku dijual daripada data yang terverifikasi. Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan ancaman serius bagi fondasi peradaban manusia.

Ketua Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIKA, Adian Husaini menyebut masa ini sebagai era matinya kepakaran dan munculnya manusia-manusia yang sok tahu.

Baca juga: Kondisi Hukum Indonesia: Sebuah Laporan tentang Keadilan

Prof Tom Nichols lewat buku The Death of Expertise telah memotret realitas di Amerika Serikat di mana otoritas ilmu tidak lagi dihargai. Saat pandemi melanda, mereka yang memiliki otoritas ilmu justru kalah suara oleh sosok-sosok populer yang hanya bermodal jempol di layar ponsel.

Kondisi ini diperparah dengan lahirnya "Generasi Cemas", di mana permainan anak-anak beralih dari alat nyata ke dunia digital berbasissmartphone.

Adian mengatakan, sebuah riset menunjukkan korelasi positif antara tingkat kecemasan dengan durasi penggunaan media sosial.

"Kita hidup di zaman di mana siapa pun bisa menulis berita tanpa melalui uji kompetensi wartawan yang ketat seperti dulu. Dampaknya? Masyarakat menjadi "sok tahu". Mereka menjejerkan judul-judul berita, merasa telah paham segalanya, lalu dengan ringan menyebarkan fitnah," kata Adian Husaiani di mimbar Ramadhan Public Lecture di Masjid Kampus UGM pada Selasa, 24 Februari 2026.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya