Islam mengerahkan kecenderungannya yang lebih besar kepada masalah kebersihan. Sebab kebersihan adalah merupakan dasar pokok bagi setiap perhiasan yang baik dan pemandangan yang elok.
Kisah ini diceritakan oleh Jalaludin Rumi dan tercatat juga dalam Kelakuan Para Ahli (Acts of Adepts), karya Aflaki. Kisah tentang kaum Mevlevi dan kebiasaan kelakuan mereka ditulis pada abad keempat belas.
Setelah Namrudz dan para pembantunya sepakat untuk membakar Ibrahim as, dia memerintahkan untuk mengumpulkan kayu-kayu bakar dari gunung dengan diangkut oleh bagal.
Di antara petaka rohani yang paling sering menimpa para penuntut ilmu adalah ketika ilmu hanya berhenti sebagai pengetahuan, bukan menjadi penggerak amal.
Pengarang kisah ini, kisah yang sangat disukai di Timur Tengah, adalah Sufi Agung Fudail bin Ayad, bekas perampok yang meninggal pada awal abad kesembilan.
Kata Imam mempunyai makna yang sama dengan khalifah. Hanya saja kata Imam digunakan untuk keteladanan, karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata belakang.
Kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang saling kait-berkait: 1. Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifah. 2. Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat Al-Baqarah sebagai ardh. 3. Hubungan antara manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia.
Seorang muslim itu bukan menjadi milik dirinya sendiri, tetapi dia adalah milik agama dan umatnya. Hidupnya, kesehatannya, hartanya dan seluruh nikmat yang diberikan Allah kepadanya adalah sebagai barang titipan (amanat).
Peniru dan sistem yang dirancang sesuai dengan pemikiran konvensional, di Timur maupun di Barat, umumnya memilih menekankan pada 'sistem' dan 'program', alih-alih pada totalitas pengalaman yang diterapkan dalam madrasah Sufi.
Kisah ini dianggap mengandung 'baraka' berkah bagi penutur maupun pendengarnya, dan oleh karena itu digemari di negeri-negeri Balkan dan Timur Dekat. Banyak kisah-kisah Sufi yang tersamar sebagai cerita dongeng.
Terdapat dalam suatu naskah darwis yang disebut Kitab-i-Amu Daria (Kitab Sungai Oxus), sebuah sumber yang memasukkan kisah ini sebagai salah satu kisah ajaran Uwais Al-Qarni, pendiri Kaum Darwis Uwaisi ('Menyepi').
Mereka yang percaya bahwa kemajuan spiritual semata-mata tergantung pada penguasaan hal-hal pahala dan siksa, sering kali dikejutkan oleh kisah Sufi tentang Yesus ini.
Pertama kali yang dicanangkan Nabi Muhammad SAW tentang masalah arak, yaitu beliau tidak memandangnya dari segi bahan yang dipakai untuk membuat arak itu, tetapi beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan.