Setelah sekian lama umat Islam tertidur panjang seperti Ashabul Kahfi dalam gua, kini mereka bangkit. Lirih pada awalnya, lalu lantang, hingga tak bisa lagi diabaikan.
Hubungan seksual dalam Islam sebagai ibadah, asalkan dilakukan di jalur halal. Nabi bahkan menyatakan, Di kemaluan kalian ada sedekah, saat para sahabat heran bahwa aktivitas biologis di ranjang ternyata berpahala.
Dalam lorong sunyi tasawuf, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, tetapi tujuan akhir dari kemanusiaan. Ia tak kasat mata, namun membentuk seluruh wajah batin seorang mukmin.
Kebajikan dinilai bukan dari keluhuran moralnya, melainkan sejauh mana ia berkontribusi pada efisiensi sistem, pada kestabilan produksi, pada roda kapitalisme atau negara.
Bahkan ketika seorang istri lalai dalam kewajiban agamanya, Nabi memberi contoh dengan tidak bicara pada para istrinya selama sebulan, sebuah cara menunjukkan ketidaksetujuan tanpa melampaui batas.
Sang filosof terlalu sibuk dengan teori, kutipan, dan analogi yang rumit, tetapi jauh dari kenyataan hidup. Ilmu yang terputus dari realitas mudah kehilangan makna dan arah.
Agama Kristen, yang dulunya menjadi fondasi etis, kini, menurut Asad, hanya menjadi konvensi sosial. Ia hidup sebagai dekorasi, bukan sebagai kekuatan hidup.
Dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad menasihati: Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku.
Bahaya pertama: seorang suami yang mencari nafkah dengan cara yang haram. Nabi sendiri menegaskan: tak ada amal saleh yang cukup untuk menebus dosa itu.
Eropa pun mengalami kejutan intelektual. Ia menyebutnya Renaisanslahir kembali. Tetapi seperti dicatat Asad, kelahiran kembali itu bukan dari rahim gereja, melainkan dari sentuhan Islam.
Kebanyakan orang melihat dunia melalui kacamata keinginan dan ketakutannya. Nasrudin mengingatkan bahwa belajar melihat dengan jernih adalah pencapaian spiritual yang sangat tinggi.
Sang dosen menyebut bahwa penyakit kita yang lain adalah terlalu cepat mengeluh, bahkan untuk hal-hal kecil, padahal penderitaan sesungguhnya mungkin baru terasa di akhirat kelak bila kita abai pada hakikat hidup.
Daripada sibuk mempersiapkan diri untuk situasi yang mustahil atau jarang terjadi, lebih baik kita mempersiapkan diri untuk yang lebih relevan dan berguna.
Hijaz berkembang sebagai pusat ahl al-riwayah para pemelihara dan perawi hadits. Sementara Irak menjadi rumah bagi ahl al-ray, mereka yang lebih mengandalkan penalaran dan ijtihad.
Kebenaran bukan selalu seperti yang kita bayangkan atau kita inginkan. Kadang hasil pencarian kita tak persis seperti harapan, tapi tetap bermanfaat jika diterima dengan sabar dan ikhlas.
Setiap malam, di sepertiga terakhir waktu ketika manusia lain terlelap, Khalifah Umar bin Khattab memukul kakinya sendiri dengan ngeri. Apa yang telah kau lakukan hari ini? serunya kepada dirinya sendiri.