Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Kebangkitan yang Tak Bisa Ditahan: Gelombang Baru Islam dan Wajah Perempuan

miftah yusufpati Sabtu, 12 Juli 2025 - 05:15 WIB
Kebangkitan yang Tak Bisa Ditahan: Gelombang Baru Islam dan Wajah Perempuan
Di zaman ketika banyak orang masih meniru Barat secara buta, kebangkitan Islamyang diisi juga oleh para perempuan cerdasadalah jawaban yang dinanti. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di ruang-ruang kuliah, majelis taklim, bahkan di pusat-pusat kekuasaan, ada sesuatu yang bergerak pelan tapi pasti. Setelah sekian lama umat Islam tertidur panjang seperti Ashabul Kahfi dalam gua, kini mereka bangkit. Lirih pada awalnya, lalu lantang, hingga tak bisa lagi diabaikan.

Tanda-tanda itu nyata: masjid yang dulu lengang kini penuh di waktu subuh, buku-buku Islam laris di toko, diskusi tentang syariat tak hanya milik para ulama, tetapi juga mahasiswa dan politisi muda. “Ini bukan sekadar nostalgia masa lalu. Ini kebangkitan yang matang, dengan akal sehat dan kepercayaan diri,” begitu kira-kira yang ditulis Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Fatawa Mu’ashirah.

Kebangkitan itu memang bukan fenomena baru. Dalam setiap generasi, selalu muncul gelombang yang menyadarkan umat dari tidur panjang mereka. Tapi yang sekarang, terasa berbeda: mereka belajar dari masa lalu, lebih percaya diri, lebih siap menghadapi tantangan dunia modern.

Dulu, di puncak kolonialisme, umat Islam seperti kehilangan arah. Barat dianggap segalanya: ilmunya diadopsi, nilai-nilainya ditelan bulat-bulat. Bahkan, banyak yang menganggap syariat sebagai beban sejarah yang perlu disingkirkan demi maju. Poligami dicemooh, waris dikritik, riba diabaikan.

Baca juga: Hukum Bunga Bank Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi

Kini, setelah melihat Barat kehilangan tujuan di tengah kemajuan teknologi, umat kembali bertanya: untuk apa kita hidup, dari mana kita datang, ke mana kita pergi? Pertanyaan yang tak dijawab filsafat materialis modern. Maka umat Islam kembali kepada Al-Qur’an, menemukan bahwa Islam bukan hanya ritual, tetapi juga sistem moral, hukum, bahkan visi peradaban.

“Umat ini tidak akan pernah mati,” tulis al-Qaradawi. Kebangkitan itu sudah tak terbendung.

Wajah Perempuan dalam Kebangkitan

Di tengah arus itu, perempuan muslim tidak hanya menjadi penonton. Di banyak kisah dalam Al-Qur’an, tokoh perempuan justru memainkan peran penting: dari istri Fir’aun yang melindungi Musa, putri Syuaib yang memberi nasihat bijak, hingga Ratu Balqis yang bijaksana memimpin Yaman.

Perempuan juga ada di balik kebangkitan Nabi Muhammad: Khadijah yang pertama beriman, Ummu Salamah yang bijak memberi saran saat perjanjian Hudaibiyah, hingga Aisyah yang menjadi salah satu periwayat terbesar hadis. Perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi penggerak.

Di era modern, peran itu semakin luas. Dari dosen, penulis, politisi, hingga aktivis sosial, perempuan muslim bergerak di ruang-ruang publik. Pertanyaannya: apakah perempuan boleh berkarier dan berpendidikan tinggi dalam Islam?

Jawabannya tegas: boleh. Bahkan harus, sepanjang tidak melupakan kodrat dan etika syariat. Dalam Al-Qur’an, perempuan jelas dipuji karena amanah, kuat, bijak, bahkan bisa memimpin musyawarah. Yang ditolak Islam bukanlah karier atau pendidikan, tetapi budaya meniru Barat secara buta: menanggalkan akhlak, mengabaikan halal-haram, dan menjadikan tubuh sebagai komoditas.

Baca juga: Tingkatan Hukum Syar'i Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi

Jalan Terjal Melawan Arus

Tetapi jalan kebangkitan tak mudah. Di satu sisi ada tantangan internal: umat yang masih terlena, para perempuan yang masih silau dengan budaya hedonis, dan sebagian pemimpin yang hanya menjual Islam untuk kepentingan politik. Di sisi lain, ada tekanan eksternal: ideologi sekuler yang terus menggoda, media yang membentuk citra negatif terhadap syariat.

Bagi perempuan, tantangannya bahkan lebih berat. Di satu ujung mereka dituntut menjadi “modern” dengan definisi Barat; di ujung lain mereka diminta tetap “rumahan” oleh komunitasnya. Islam memberi jalan tengah: perempuan boleh maju sejauh mungkin, asal tidak melanggar batas-batas yang Allah tetapkan.

Seorang guru besar yang juga aktivis dakwah pernah mengatakan, “Islam tidak pernah membatasi potensi perempuan. Yang Islam batasi hanya cara yang salah.”

Kebangkitan umat kini bukan lagi wacana kosong. Dari mushalla kecil di perkampungan hingga mimbar-mimbar kampus dan parlemen, seruan kembali kepada Islam makin nyata. Perempuan memainkan peran strategis di dalamnya: membimbing keluarga, mencerdaskan masyarakat, hingga mengisi jabatan publik.

Kata Nabi, “Jangan jadi orang yang hanya ikut-ikutan. Jika mereka baik, aku ikut baik. Jika mereka jahat, aku ikut jahat. Tetapi teguhkan hati kalian. Jika mereka berbuat baik, aku akan ikut. Jika mereka berbuat jahat, aku tidak ikut.”

Di zaman ketika banyak orang masih meniru Barat secara buta, kebangkitan Islam—yang diisi juga oleh para perempuan cerdas—adalah jawaban yang dinanti. Tak sekadar nostalgia masa lalu, tetapi sebuah jalan panjang menuju masa depan yang lebih mulia.

Baca juga: Al-‘Uzza: Dewa Perempuan yang Tewas di Tangan Khalid bin Walid

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)