Menjaga keharmonisan suami istri hukumnya wajib dan bernilai ibadah. Ustadzah Dr Aan Rohanah membagikan tujuh cara sederhana menjaga hubungan rumah tangga agar tetap harmonis dan penuh kasih sayang.
Filsafat Islam tak lahir dari ruang hampa. Neoplatonisme, ajaran filsuf pagan Plotinus, ikut membentuk kosmologi dan metafisika Muslim, sekaligus memicu perdebatan serius dengan doktrin wahyu.
Fiqh tumbuh di tengah ekspansi politik Islam. Dari kebutuhan mengatur masyarakat majemuk, ia menjelma disiplin hukum mapan, dibentuk perdebatan ulama, patronase penguasa, dan dinamika sejarah.
Filsafat Islam tumbuh dari perjumpaan panjang dengan warisan Yunani. Di balik hormat besar pada Aristoteles, yang hidup justru Aristotelianismeajaran yang telah ditafsir, disaring, dan diolah ulang lintas zaman.
Fiqh tidak lahir dari ruang hampa. Ia berakar pada peran Nabi sebagai pemimpin dan hakim di Madinah, lalu tumbuh menjadi disiplin hukum yang menata masyarakat, dengan etika sebagai fondasi utamanya.
Filsafat Islam lahir dari dialog rumit antara wahyu dan rasio. Aristotelianisme dan Neoplatonisme tidak ditelan mentah, tetapi diolah ulang hingga melahirkan tradisi kalam dan filsafat yang orisinal dan berpengaruh global.
Fikih bukan sekadar hukum ibadah. Ia tumbuh bersama ekspansi Islam, menjadi instrumen utama pengaturan masyarakat dan negara. Sejarah menjelaskan mengapa fiqh begitu dominan dalam cara umat Islam memahami agamanya.
Pengetahuan manusia berkembang, tafsir ikut bergeser. Al-Quran tetap sama, tetapi pemahamannya menuntut keberanian merevisi tafsir lama tanpa menjadikannya tunduk pada sains.
Di tengah laju sains modern, Al-Quran tetap menuntut pembacaan rasional. Bukan dengan membenarkan teori ilmiah, melainkan dengan dialog kritis antara wahyu, akal, dan pengalaman manusia.
Al-Quran sering diminta menjawab semua persoalan manusia. Padahal, ia diturunkan sebagai kitab hidayah: penuntun akidah, hukum, dan akhlak demi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Kisah Isra membuat banyak orang Mekah mencibir, bahkan sebagian Muslim goyah. Di tengah keraguan itu, Abu Bakar As-Siddiq berdiri membenarkan Nabi tanpa syarat, mengubah krisis iman menjadi fondasi sejarah.
Usai peristiwa Isra yang mengguncang iman banyak orang, Abu Bakar As-Siddiq memikul tugas sunyi: melindungi kaum lemah, menopang dakwah Nabi, dan memastikan Islam tetap bertahan di Mekah.
Sebagai semenda Nabi, Abu Bakar As-Siddiq berdiri di garis depan menghadapi kekerasan Quraisy. Dengan iman yang tenang dan keberanian sunyi, ia menjadi perisai awal bagi risalah Islam.
Renungan malam tentang pentingnya husnuzan kepada Allah di tengah hari yang berat, agar hati lebih tenang, iman dikuatkan, dan jiwa siap menyambut kebaikan esok hari.
Meluasnya tafsir ilmiah juga dipicu trauma sejarah Barat. Konflik gereja dan sains membuat sebagian cendekiawan Muslim tergesa membuktikan bahwa Islam bebas pertentangan.
Tafsir ilmiah Al-Quran berkembang pesat sejak abad ke-19. Ia lahir dari kegelisahan umat Islam menghadapi dominasi Barat dan hasrat membuktikan bahwa wahyu tidak kalah oleh sains modern.
Al-Quran kerap diseret ke gelanggang sains modern. Padahal, wahyu tidak diturunkan untuk menjelaskan teori ilmiah, melainkan menuntun manusia membaca semesta sebagai tanda kebesaran Tuhan.
Renungan malam tentang tawakal dan percaya kepada Allah. Menguatkan hati yang lelah berharap, meneguhkan iman, serta mengajak tetap melangkah dengan sabar dan keyakinan penuh kepada-Nya.
Upaya membenarkan teori ilmiah dengan ayat Al-Quran kerap berujung sesat. Tafsir ilmiah berkembang, tetapi ketika wahyu dipaksa mengikuti sains yang sementara, iman justru dipertaruhkan.
Abu Bakar bukan hanya orang pertama yang percaya, tetapi juga yang paling berani bersuara. Di Mekah yang penuh risiko sosial, ia menyiarkan Islam tanpa menimbang untung rugi dagang.