Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 05 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

7 Persiapan Wajib Sebelum Memasukkan Anak ke Pesantren

Muhajirin Selasa, 18 Januari 2022 - 18:00 WIB
7 Persiapan Wajib Sebelum Memasukkan Anak ke Pesantren
Peringatan Hari Santri di Salah Satu Pesantren. (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Abah Ihsan), internasional parenting trainer dan Direktur Auladi Parenting School membagikan tips bagi para orang tua yang ingin memasukkan anak pesantren.

Pesantren atau sekolah berbentuk asrama itu berbeda jauh dengan sekolah biasa. Di pesantren, ada pengawasan 24 jam dan ada kultur-kultur berbeda dengan sekolah biasa. Jika tidak dipersiapkan sebaik mungkin, orang tua justru bisa mendapat kekecewaan.

Maka itu, Abah Ihsan membagikan 7 tips agar orang tua dan anak bisa sukses menjalani pendidikan pesantren. Di antaranya:

1. Meluruskan Niat

Orang tua harus meluruskan niat sebelum memasukkan anak ke pesantren. Niat itu tidak hanya untuk kepentingan anak semata, tapi juga kepentingan orang tua.

Orang tua tidak boleh memasukkan anak ke pesantren hanya karena niat cuci tangan samata. Ini seperti menjadikan pesantren sebagai bengkel akhlak. Jika anak bermasalah karena pola asuh di rumah lalu dikirim ke pesantren, itu hanya melahirkan kekecewaan.

"Anak-anak bermasalah dikirim ke pesantren, apa susahnya mereka kabur dari pesantren?" kata Abah Ihsan dikutip kana YouTube Share Channel, Selasa (18/1/2022).

Sama halnya tak boleh memasukkan anak ke pesantren karena orang tua ingin melepas tanggung jawab mengurus anak. Niat-niat semacam ini hanya akan melahirkan kekecewaan di kemudian hari.

Namun, berbeda halnya jika orang tua berniat ingin menyelamatkan anak dari lingkungan rusak. Misal, anak memiliki perilaku baik, namun lingkungan sekitar tidak mendukung. Biaya untuk pindah rumah pun tidak ada.

"Menyelamatkan anak dari lingkungan rusak bisa jadi motif yang bisa diterima. Misalnya, mendukung anak untuk menjadi ulama, kaffah di bidang agama, itu boleh. Karena kompetensi orang tua sedikit, makanya anak belajar yang punya ilmu yang lebih besar," kata Abah Ihsan.

Bisa juga jika status single parent. Ayah atau ayah harus bekerja sepanjang hari menghidupi keluarga, sehingga tidak ada waktu bersama anak.

"Itu bisa memasukkan anak ke pesantren. Karena tidak ada waktu untuk mengasuh anak, saya khawatir, karena kurang waktu dengan dia, sehingga salah pergaulan. Di pesantren anak-anak bisa tetap terjaga," ucapnya.

2. Pilih Usia yang Tepat

Abah Ihsan mengaku tidak setuju memasukkan anak usia TK dan SD ke pesantren. Usia-usia itu masih membutuhkan belai kasih sayang orang tua.

Waktu paling ideal adalah saat anak sudah baligh. Bagi anak perempuan umur SMP dan anak laki-laki saat usia SMA. Namun, anak laki-laki tidak masalah masuk usia SMP karena baligh-nya bisa di tengah jalan.

"Terlebih, orang tua juga punya tanggung jawab untuk membentuk karakter anak. makanya umurnya harus tepat," ucapnya.

Terlebih ada hadits "Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat." (HR Tirmidzi, hasan gharib).

Batas usia boleh dipisahkan adalah sampai usia baligh, sebagaimana hadits yang disampaikan Ubadah bin Shamit, "Rasulullah SAW melarang memisahkan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, 'Wahai Rasulullah, sampai kapan?' Beliau menjawab, 'Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haid bila perempuan." (HR Al-Hakim, shahih)

3. Pastikan Niat Melanjutkan, Bukan Melemparkan

Memasukkan anak ke pesantren untuk melanjutkan apa yang dilakukan di rumah, bukan melemparkan anak dari ketidakmampuan memandirikan anak di rumah.

Maka itu, selama di rumah orang tua harus tetap melatih kemandirian. Misalnya kemandirian mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membereskan kasur sendiri, mencuci pakaian sendiri, dan lain sebagainya.

"Kalau di rumah sudah terbiasa mandiri, maka di pesantren pun tidak terlalu banyak masalah," kata Abah Ihsan.

4. Survei Sebelum Masuk Pesantren

Jauh-jauh hari saat anak masih kelas 5 atau kelas 6 SD bisa berkunjung ke pesantren. Berkunjung saja, tidak perlu menawarkan kepada anak. Buat anak merasa tertarik masuk ke pesantren dengan sendirinya.

Bisa juga menggali informasi dari anak-anak yang sudah sekolah di pesantren. Kalau bisa orang tua menyurvei banyak pesantren agar banyak referensi.

5. Bersiap Transit Saat Anak Pulang ke Rumah

Pada saat liburan, anak kerap ingin memanfaatkan untuk malas-malasan, karena alasan banyak aturan dan kegiatan di pesantren. Itu tidak boleh jadi pembenaran. Hanya karena banyak aturan dan kegiatan di pesantren, anak tidak boleh melakukan kesia-siaan di rumah.

"Tertekan di pesantren bukan berarti boleh bermalas-malasan di rumah. Makanya orang tua harus skill ketegasan," kata Abah Ihsan.

Maka sebaiknya, ketika anak liburan harus ada program khusus agar santri tidak terjebak pada kemalasan saat liburan. Bisa touring untuk tadabbur alam, bikin project dengan orang tua, camping bareng dengan anak-anak, dan kegiatan menyenangkan lainnya.

"Jangan buat anak nganggur, carikan kesibukan yang menyenangkan," ucapnya.

6. Bersiap dengan Kondisi Tak Terduga

Kalau misalnya di tengah jalan anak tidak betah, orang tua harus siap dengan risiko. Tapi setidaknya orang tua sebisa mungkin menahan anak sampai 1 tahun agar ada persiapan jika ingin pindah ke sekolah biasa.

"Jangan sampai baru 1 minggu datau 1 bulan sudah tidak betah, itu normal karena ada transisi. Jadi 1-3 bulan tidak bisa menjadi ukuran tidak betah. Namanya juga adaptasi. Karena biasanya jika sudah lama, anak akan betah sendiri. Karena yang seru di pesantren itu, pertemanan," kata Abah Ihsan.

Kalau sudah 1 tahun tidak betah, tidak apa-apa jika anak ingin keluar dari pesantren. Ini karena yang wajib itu belajar agama, bukan masuk pesantren. Pesantren hanya salah satu sarana belajar agama, bukan satu-satunya sarana.

7. Pilih Pesantren yang Peduli Pengasuhan

Orang tua harus memilih pesantren yang memiliki SOP yang jelas. Misal terjadi perundungan, pesantren sudah memiliki mekanisme untuk mengatasi hal itu. Demikian pula jika ada anak yang dipukul dan memukul, sudah ada aturan yang mengedepankan pola-pola pengasuhan.

"Di asrama ada nggak yang mengawasi. Wawancara dengan pengasuh pesantren, lihat kondisi pesantren, lihat saat jam istirahat apakah guru-guru memberikan pengawasan atau tidak. Bagaimana kebersihan toilet, dan lain sebagainya," kata Abah Ihsan.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 05 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)