LANGIT7.ID, Jakarta - Korupsi adalah masalah akut yang menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi seringkali berbentuk tindakan manipulaif dalam mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Tindakan tercela ini terus bermunculan dari para pesohor dan pejabat negeri ini, dan mulai menginfeksi generasi muda.
Khatib Jumat sebagai juru dakwah seyogianya mengedukasi masyarakat tentang bahaya korupsi serta bagaimana cara mencegahnya. Praktik korupsi harus dipangkas sejak dini, khususnya pada generasi muda sebagai tulang punggung kehidupan di masa depan.
1. Korupsi Menghilangkan Keberkahan RezekiRezeki berkah adalah yang didapatkan dengan cara-cara halal. Rezeki yang berkah tidak selalu berbentuk banyaknya uang atau harta. Berkah berarti bertambahnya karunia Allah, tumbuhnya kebahagiaan dan senantiasa diliputi keberuntungan.
Para ulama menerjemahkan berkah sebagai segala hal yang berlimpah, baik dari aspek spiritual atau material. Termasuk di dalamnya kasih sayang, ketenangan, kenyamanan, waktu, usia, dan sebagainya.
Baca Juga: 5 Tema Khutbah Jumat tentang Urgensi Tauhid bagi MuslimPraktik korupsi menghilangkan keberkahan rezeki. Uangnya, hartanya boleh saja bertambah, tapi ia akan kehilangan ketenangn, kenyamanan, waktu, kasih sayang untuk menutupi tindakan manipulatifnya. Seperti bola salju, praktik korupsi akan menimbulkan berbagai tindakan kecurangan dan kebohongan lainnya.
2. Ancaman Bagi Pelaku KorupsiKorupsi dalam syariat Islam diatur dalam fiqih Jinayah. Jinayah adalah sebuah tindakan atau perbuatan seseorang yang mengancam keselamatan fisik dan tubuh manusia serta berpotensi menimbulkan kerugian pada harga diri dan harta kekayaan manusia. Menggelapkan uang Negara dalam syari’at Islam disebut Al-ghulul.
Pelaku korupsi harus dikenai sanksi hukum, baik diberikan di dunia maupun hukuman Allah kelak di akhirat. Saat di dunia pelaku korupsi harus diadili dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apabila ia tidak bertobat, maka di akhirat ia akan memikul harta haramnya hingga terengah-engah, kepayahan dan tidak ada seorang pun yang mau menolongnya.
3. Cegah Korupsi dengan Empat Sifat BaikDalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad Bin Hambal, ada empat sifat yang apabila semuanya ada pada diri seseorang, maka tidak akan menjadi sebab hilangnya segala kesusahan, empat sifat tersebut adalah menjaga amanah, bicara jujur, berakhlak mulia, dan senantiasa menjaga kesucian.
Baca Juga: Dosen STAIPI Bandung: Sampaikan Dakwah dengan Cara Lemah LembutBerdasarkan hadits tersebut, penting bagi generasi muda memegang teguh amanah sehingga terhindar dari praktik korupsi dan manipulatif. Amanah adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini, sekali saja orang tidak amanah, maka orang lain sulit untuk mempercayai. Karenanya, hendaklah generasi muda membiasakan jujur dan tidak melakukan dusta dalam pergaulan di masyarakat maupun ketika mengemban suatu jabatan dan status sosial.
4. Pentingnya TaqwaTanpa ketaqwaan, manusia akan memperturutkan hawa nafsunya. Karenanya tak heran bila banyak manusia yang bersifat rakus melebihi hewan dengan cara memakan harta yang bukan hanya dengan kekuasaannya. Manusia yang memperturutkan hawa nafsunya cenderung berfoya-foya di atas penderitaan sesamanya.
Hilangkan sifat koruptif dan praktik korupsi dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Mengimani dengan sepenuh hati bahwa Allah senantiasa memperhatikan tingkah laku hamba-hambanya. Allah akan membalas perbuatan hambanya dengan seadil-adilnya meskipun sebesar biji dzarah. Korupsi kecil-kecilan pun akan diperhitungkan di akhirat kelak.
5. Menanamkan Rasa Takut kepada AllahAllah Maha Menyaksikan dan Maha Halus perhitungannya. Namun, manusia seringkali merasa tidak ada yang mengawasinya. Dosa-dosa kecil dianggap sebagai hal yang ringan sehingga kesalahannya terus bertumpuk-tumpuk. Manusia merasa “hanya” melakukan maksiat kecil, berbuat dosa tanpa merasa bersalah. Padahal, Allah selalu memperhatikannya, mencukupkan rezekinya.
Dengan melakukan maksiat, ia lupa siapa yang ia maksiat, yakni Allah yang senantiasa mencurahkan nikmat kepadanya. Perbuatan maksiat kepada Allah bisa dicegah dengan menanamkan rasa khauf, takut kepada Allah. Dengan memiliki sifat khauf kita tidak berani bermaksiat, malu dengan kasih sayangnya, maupun takut akan siksa dan azab-Nya yang sangat keras. Seorang muslim yang memiliki rasa khauf niscaya terhindar dari praktik korupsi dan manipulatif.
Baca Juga: Ustaz Yayan Haryana: Kematian Merupakan Istirahat Bagi Orang Beriman(zhd)