LANGIT7.ID, Jakarta - Peradaban Islam telah mengenal ilmu kedokteran. Sejak zaman Rasulullah SAW, ilmu kedokteran merupakan ilmu yang dipelajari dengan seksama. Salah satu dokter piawai andalan Rasulullah adalah Haris bin Kaladah.
Meski bukan muslim, Rasulullah SAW menyuruh kaum muslimin yang sakit untuk berobat kepada Haris bin Kaladah. Puteranya, Nadar bin Haris bin Kaladah, juga menjadi dokter yang terkenal.
Selain itu, ada pula Abu Rimtsah, ahli bedah yang hidup pada masa Rasulullah. Di kalangan muslimah ada nama Rufaidah binti Sa'ad, perawat yang mengobati luka para sahabat di Perang Badar, termasuk mereka yang sekarat.
Ada juga Syifa binti Abdullah. Salah satu metode pengobatan Syifa adalah pengobatan dan pencegahan terhadap gigitan semut. Beda lagi dengan Nusayba binti Harits al-Ansari yang juga disebut 'Atia, yang merawat korban di medan perang. Selain itu, dia juga bisa melakukan sunat.
Memang tidak banyak riwayat atau informasi terkait kedokteran pada masa Rasulullah. Ada banyak faktor mengenainya. Saat itu, misalnya, lenduduk Makkah dan Madinah masih sangat sedikit, tidak seperti masyarakat di pinggiran Jazirah Arab seperti Yaman dan Oman.
"Sedikit sekali informasinya, karena memang kebutuhan terhadap aspek pengobatan tidak sekuat di wilayah-wilayah yang memiliki banyak penduduk," kata Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari di kanal
YouTube Sirah Community, Selasa (25/1/2022).
Tidak ada Beda Thibbun Nabawi dan Kedokteran ModernAsep Sobari menegaskan, kedokteran dalam Islam bersifat terbuka dan luas, tidak hanya berdasar pada nash-nash atau cara yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dia mencontohkan Haris bin Kaladah.
Haris belajar kedokteran dari Zundi Sabur, kota kedokteran Persia yang bertahan hingga awal-awal Islam. Ia juga belajar kedokteran dari Suriah Utara yang memang terkenal dengan ilmu kedokteran. Besar kemungkinan, dia juga belajar kedokteran Yunani.
"Nah, kalau direkomendasikan oleh Rasulullah, berarti thibbun nabawi, kan? Jadi, thibbun nabawi itu luas, tidak sebatas yang dipraktikkan oleh Rasulullah," kata Asep Sobari.
Asep mengatakan, thibbun nabawi adalah kumpulan teks-teks yang terkait dengan pengobatan, yang memang sudah diverfikasi oleh ulama hadits. Secara umum, thibbun Nabawi mencakup dua aspek yakni aspek preventif dan kuratif.
"Aspek preventif justru lebih banyak, artinya secara muatan materi daripada kuratif. Preventif mencakup menjaga kesehatan lingkungan, makanan, dan lainnya. Kuratif mencakup mengonsumsi obat, pengobatan psikologis, diet (cara makan)," kata Asep.
Terkait kuratif, memang ada keterangan praktik pengobatan Rasulullah menggunakan material tertentu. Tapi, itu tidak bisa dipahami sebagai pembatasan. Sebab, Nabi Muhammad juga merekomendasikan umat Islam berobat kepada Haris Ibnu Kalada.
"Rasulullah memberikan arahan terbuka. Termasuk rekomendasi ke Al-harits. Sementara Al-Harits mendapatkan ilmu dari Zundi Sabur, beberapa daerah di Syam. Secara umum kan, Rasulullah menganjurkan kita untuk berobat. Jadi, dengan metode apapun selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka itu mengikuti sunnah Rasulullah," ucap Asep.
(jqf)