Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home global news detail berita

Sejarah Damai Kehadiran dan Persebaran Islam di Anak Benua India

Muhajirin Kamis, 17 Februari 2022 - 13:00 WIB
Sejarah Damai Kehadiran dan Persebaran Islam di Anak Benua India
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Anak Benua India (India, Pakistan, dan Bangladesh) menjadi salah satu pusat populasi umat Islam terbesar di dunia. Saat masuk ke daerah tersebut, Islam telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan masyarakat.

Sebenarnya, ada banyak teori terkait awal mula Islam masuk ke India. Secara politis, beberapa gerakan seperti gerakan Hindu mencoba membuat Islam tampak asing di benua itu. Mereka bersikeras mengklaim Islam ada hanya karena invasi oleh muslim Arab dan Persia. Namun, itu jauh dari kebenaran.

Muslim India Awal

Dalam Lost History of Islam, Firas al-Khateeb mencatat India dan Jazirah Arab sudah memiliki hubungan erat melalui perdagangan sebelum Nabi Muhammad SAW diutus pada tahun 600-an. Para pedagang Arab menjadikan India sebagai target perdagangan rempah-rempah, emas, dan barang-barang dari Afrika.

Bisa disimpulkan, saat Islam muncul di Tanah Arab, para pedagang yang telah memeluk agama Islam menyebarkan ajaran itu di India. Masjid pertama India, Masjid Cheraman Juma, dibangun pada 629 M. Masjid yang terletak di Kerala itu dibangun oleh Cheraman Perumal Bhaskara Ravi Varma.

Dampak dari hubungan dagang itu, Islam terus menyebar luas ke kota-kota pesisir India, baik imigrasi maupun mualaf.

Muhammad bin Qasimi

Ekspansi besar pertama Islam ke India terjadi pada era Dinasti Umayyah. Pada 711, Bani Umayyah menunjuk seorang pemuda berusia 17 tahun dari Ta'if, Muhammad bin Qasim, untuk memperluas wilayah kekuasaan Umayyah ke Sindh.

Sindh adalah tanah di sekitar Sungai Indus di bagian barat laut anak benua (Pakistan saat ini). Muhammad bin Qasim memimpin pasukan yang terdiri dari 6.000 tentara ke bagian timur jauh Persia, Makran.

Dia menghadapi sedikit perlawanan saat dia masuk ke India. Ketika dia sampai di kota Nerun, di tepi Sungai Indus, dia disambut oleh para biksu Buddha. Namun, setelah melewati perjuangan, sebagian besar kota di sepanjang Indus tunduk kepada pasukan muslim tanpa perlawanan.

Dalam beberapa kasus, minoritas Buddhis datang ke penguasa muslim untuk meminta perlindungan.

Terlepas dari dukungan dan persetujuan dari sebagian besar penduduk, Raja Sindh, Dahir, menentang ekspansi Muslim dan memobilisasi pasukannya melawan Muhammad bin Qasim.

Pada 712, kedua pasukan bertemu. Tapi, peperangan itu dimenangkan oleh pasukan muslim. Dengan kemenangan itu, seluruh Sindh berada di bawah kendali Muslim.

Namun perlu dicatat, penduduk Sindh tidak dipaksa untuk masuk Islam. Bahkan, bagi semua orang, tidak ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Muhammad bin Qasim menjanjikan keamanan dan kebebasan beragama kepada semua umat Hindu dan Buddha.

Misalnya, kasta Brahman melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pemungut cukai dan biksu Buddha terus mempertahankan wihara mereka. Karena toleransi dan keadilan Islam, banyak kota secara teratur menyambut pasukan muslim dengan meriah.

Pola Mualaf

Gelombang berturut-turut tentara Muslim yang menembus ke India mengikuti pola yang hampir sama. Para pemimpin seperti Mahmud dari Ghazni dan Muhammad Tughluq memperluas wilayah kekuasaan tanpa mengubah tatanan agama atau sosial masyarakat India.

India pra-Islam sepenuhnya didasarkan pada sistem kasta. Itu menjadikan proses Islamisasi masyarakat terjadi secara bertahap. Seringkali, seluruh kasta akan masuk Islam pada suatu waktu. Ini akan terjadi karena berbagai alasan.

Namun, seringkali kesetaraan yang diberikan Islam lebih menarik daripada rasisme terorganisir sistem kasta. Dalam sistem kasta, keluarga tempat lahir menentukan posisi di tngah masyarakat. Tidak ada kesempatan untuk mendapat derajat tinggi dalam masyarakat.

Dengan masuk Islam, orang memiliki kesempatan untuk naik derajat dalam masyarakat, dan tidak lagi tunduk pada kasta Brahman.

Agama Buddha, yang dulunya sangat populer di anak benua itu, perlahan-lahan meredup di bawah kekuasaan Muslim. Secara tradisional, ketika orang ingin melarikan diri dari sistem kasta, mereka akan pindah ke pusat populasi utama dan masuk agama Buddha.

Namun, ketika Islam menjadi pilihan, orang-orang mulai masuk Islam alih-alih Buddha, sambil tetap meninggalkan sistem kasta. Mitos tentang Islam yang menghancurkan agama Buddha di India dengan kejam adalah salah.

Umat Budha tetap menjalankan agama mereka di bawah pemerintahan muslim. Tidak ada bukti yang menyebut masyarakat India dipaksa masuk ke dalam Islam. Peran para ulama juga sangat signifikan. Mereka berkeliling ke seluruh India untuk mendakwahkan ajaran Islam.

Apakah Islam Menyebar dengan Kekuatan?

Sementara, beberapa orang mengklaim populasi besar Islam di India akibat kekerasan dan paksaan. Pernyataan ini sama sekali tidak terbukti. Meski pemimpin muslim menggantikan raja-raja Hindu, masyarakat tetap dibiarkan menjalani ajaran agama mereka.

Islam adalah bagian integral dari India dan sejarahnya. Karena anak benua India saat ini tetap menjadi tempat multi-etnis dan multi-agama, penting untuk memahami posisi Islam di wilayah tersebut.

Islam masuk ke India melalui kekerasan tidak memiliki bukti sejarah sama sekali. Islam masuk dengan damai, tidak ada paksaan sama sekali. Masyarakat India pun masuk Islam karena melihat keindahan ajaran agama tersebut.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)