Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 20 Juni 2026
home sosok muslim detail berita

Detik-detik Berpulangnya Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Berjuang Hingga Titik Darah Penghabisan

Muhajirin Senin, 26 Juli 2021 - 14:03 WIB
Detik-detik Berpulangnya Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Berjuang Hingga Titik Darah Penghabisan
Hadhratussyekh KH Hasyim Asyari (foto: nu.or.id)
LANGIT7.ID - 25 Juli merupakan salah satu tanggal penting bagi warga Nahdliyyin. Dalam hitungan kalender masehi, 25 Juli merupakan hari wafatnya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Banyak sekali ibroh atau pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan sang kiai, terlebih di tahun jelang wafatnya beliau. Sebab Hadhratussyekh berjuang hingga titik darah penghabisan hingga dipanggil oleh Allah Maha Kuasa.

Tahun-tahun terakhir Hadhratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) sebelum menghembus nafas terakhir, beliau difitanah oleh Jepang (Nippon). Jepang melancarkan tuduhan dan fitnah pemberontakan agar dapat memenjarakan Kiai Hasyim Asy'ari. Jepang melancarkan teror dengan datang langsung ke Pesantren Tebuireng.

Dikutip dari buku Berangkat dari Pesantren (2013) karya KH Saifuddin Zuhri, kisah keteguhan hati Kiai Hasyim Asy’ari dengan tetap menghafal Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhari sebagai wiridan selama dipenjara oleh Jepang diriwayatkan oleh Komandan Hizbullah wilayah Jawa Tengah, KH Saifuddin Zuhri saat berbincang dengan KH Wahid Hasyim.

Kala itu KH Hasyim Asy'ari tidak ingin santrinya menjadi korban kekejaman Nippon. Ia merelakan diri untuk dibawa serdadu Jepang dan dipenjara. Di penjara, KH Hasyim Asy’ari mengalami siksa pedih dari tentara Jepang untuk alasan yang tidak pernah diperbuatnya.

Meski mengalami beragam kekerasan di dalam penjara, beliau tidak menyurutkan sedikit pun semangat menegakkan agama Allah dengan tetap melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengulang hafalan hadits-hadits dalam kitab Shahih Bukhori. Dia juga menolak dengan tegas hormat menghadap matahari sebagai sikap tunduk dan patuh kepada Kaisar Jepang, Teno Heika.

Dalam sebuah kesempatan sesaat setelah Kiai Hasyim Asy’ari dibebaskan oleh Jepang melalui diplomasi KH Abdul Wahab Chasbullah dan Gus Wahid sendiri.

“Bagaimana kabar Hadhratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari setelah keluar dari tahanan Nippon?” tanya Kiai Saifuddin Zuhri mengawali obrolan dengan Kiai Wahid Hasyim.

Kiai Wahid Hasyim menjelaskan bahwa kesehatan ayahnya justru semakin membaik. Ia mengabarkan bahwa ayahnya selama di penjara mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhori berkali-kali.

“Alhamdulillah, kesehatannya justru semakin membaik. Selama dalam penjara, Hadhratussyekh bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dan Kitab Hadits Al-Bukhori berkali-kali,” terang Kiai Wahid kepada Saifuddin Zuhri.

Dua tahun berlalu sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda belum surut. Bahkan KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku dalam Orang-orang dari Pesantren (2001) mencatat, pada 21 Juli 1947 Belanda melakukan serangan secara tiba-tiba di wilayah Republik Indonesia.

Serangan kejutan itu terjadi 5 hari menjelang KH Hasyim Asy'ari wafat. Banyak pejuang gugur, terutama para pejuang santri, baik dari Hizbullah dan Sabilillah. Hampir setiap hari umat Islam melakukan gerakan batin di samping kesiapsiagaan militer.

Serangan pada 21 Juli 1947 itu, daerah RI semakin menciut. Daerah tersebut hanya meliputi garis Mojokerto di sebelah Timur dan Gombong (Kebumen) di sebelah barat dengan Yogyakarta sebagai pusatnya saat itu. Kota Malang jatuh dalam agresi Belanda 21 Juli 1947 tersebut.

Jatuhnya kota perjuangan pusat markas tertinggi Hizbullah-Sabilillah ini cukup mengejutkan Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Berita musibah itu disampaikan oleh Kiai Gufron, Pemimpin Sabilillah Surabaya, melalui utusan utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo pada 7 Ramadhan 1366 H atau 24 Juli 1947 M, sekitar pukul 21.00.

Kondisi pada pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari berujar "Masya Allah, Masya Allah..." Sambil memegang kepalanya. Lalu Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari tidak sadarkan diri.

Mengutip Buku Profil Tebuireng (hal. 65-66), Sang utusan membawa surat untuk disampaikan kepada Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari. Bung Tomo memohon Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari mengeluarkan komando jihad fi Sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban.

Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari kembali meminta waktu satu malam untuk memberi jawaban.

Dalam Buku Sedjarah KH. A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiarnja (1957) yang disusun oleh H. Aboebakar, setelah mendengar kabar tersebut, KH Hasyim Asy'ari tak sadarkan diri dalam kondisi terduduk sebagaimana semula.

Kiai Gufron tak menyadari jika KH Hasyim Asyari dalam keadaan pingsan. Ia mengira beliau sedang tidur karena kelelahan.

"Karena agakja Kiai sangat letih dan penat, maka baiklah tuan-tuan pulang sahadja dahulu, dan boleh kita besok pagi kita menghadap kemari," Ujar Kiai Gufron kepada utusan Bung Tomo dan Jenderal Soedirman.

Utusan itu sempat bersalaman dengan Kiai Hasyim yang tangannya terjulur tersebut. Setelah mengantar tamu dan ia kembali ke tempat Kiai Hasyim, baru disadari jika Rais Akbar NU itu tak sadarkan diri.

Menjelang tengah malam Dokter Angka Nitisastra datang. Ia mendiagnosa KH Hasyim mengalami pendarahan otak (hersen bloading).

"Penjakit beliau sudah amat pajah. Satu-satunya djalan untuk meringankan penderitaan beliau, jalah mengambil (mengurangi) darahnja," kata dr Angka, dikutip dengan ejaan lama.

Setelah itu, Dokter Angka segera mengambil tindakan dan menungguinya hingga dini hari. Setelah diambil tindakan tersebut, nafas KH Hasyim cukup lancar dibanding sebelumnya.

Namun, takdir Allah SWT berkehendak lain. Pada 25 Juli 1947 dini hari, tepat pukul 03.45 WIB, KH Hasyim Asyari menghembuskan nafas terakhir.

Kepergian KH Hasyim Asy’ari menjadi duka mendalam bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Apalagi di tahun-tahun awal merdeka sosok pembimbing spiritual seperti beliau amat dibutuhkan bangsa ini. Kendati begitu, hari wafat atau haul-nya KH Hasyim Asy’ari tidak diperingati sebagaimana ulama lain dalam tradisi nahdliyyin. Sebab hal itu menjadi salah satu wasiat almarhum yang tidak ingin merepotkan orang lain.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 20 Juni 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:58
Ashar
15:19
Maghrib
17:50
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan