LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, menyebut
pertumbuhan ekonomi berkisar 4,8 sampai 5,5 persen year on year pada 2022. Tren ini dinilai baik meski dalam pandemi Covid-19 varian Omicron.
"Kita melihat memang ada faktor upside tapi kita juga melihat ada faktor risiko downside, ini menjadi perhatian kita dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi 2022," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTA yang dipantau di Jakarta, Selasa (22/2/2022).
Dia mengatakan, penyebaran Covid-19 varian Omicron sempat membuat jumlah kasus aktif harian mencapai 60.000, sebagaimana saat varian Delta tahun lalu.
Baca Juga: Rupiah Melemah Terdampak Eskalasi Geopolitik Rusia UkrainaNamun penurunan aktivitas masyarakat pun diperkirakan tidak akan mengurangi kepercayaan masyarakat untuk melakukan konsumsi.
"Jadi kalau kita lihat konsumen confidence, retail sales, maupun mandiri spending index semua masih di dalam posisi robust, bertahan di level ekspansif atau tinggi. Kalau ada koreksi masih sangat minimal," katanya.
Begitu pula Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang sebesar 53,7 di Januari 2022 dan impor bahan baku serta barang modal yang masing-masing tumbuh 39,6 persen dan 41,9 persen menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur akan terus berlanjut.
"Pertumbuhan konsumsi listrik di level industri serta bisnis menggambarkan industri ini tidak menurun, masih robust seperti yang kita harapkan," kata Menkeu.
Menkeu menambahkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2021 lalu yang telah kembali ke atas 5 persen sebagaimana sebelum pandemi Covid-19 akan terus dijaga.
"Tantangan ke depan entah dari pandemi maupun disrupsi supply, komoditas, dan geopolitik serta kenaikan inflasi dan suku bunga dunia harus menjadi perhatian kita di 2022 ini," ujar Menkeu.
Sumber: Antaranews(bal)