LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar parenting nabawiyah, Ustadz Budi Ashari, menilai kisah pernikahan Nabi Musa dengan salah seorang wanita Madyan patut menjadi inspirasi bagi para pemuda.
Dia menyebut proses pernikahan Nabi Musa AS sangat luar biasa. Itu dijelaskan dalam Al-Qur’an. Musa berkenalan dengan calon istri pun sangat romantis. Keduanya bertemu di Padang pasir.
"Kala itu Musa tengah ketakutan karena dikejar-kejar oleh Fir’aun. Dia dikejar dan dicari karena memukul orang Qibti hingga mati, dengan hanya satu pukulan. Dia lalu lari dari Mesir hingga ke negeri Madyan," kata Budi Ashari dalam kajian parenting melalui kanal
Ankaboot, Rabu (2/3/2022).
Baca juga: Meniru Nabi Ibrahim Sebagai Sosok Ayah dan Pendidik HebatMadyan merupakan salah satu daerah yang tidak berada dalam teritorial kekuasaan Fir'aun. Madyan berada di perbatasan Hijaz dan Syam. Saat tiba di daerah itu, dia melihat banyak orang berkumpul, antri mengambil air di sebuah sumur.
Musa tertuju pada dua anak perempuan yang tengah menunggu antrian untuk memberikan minum kepada dombanya. Kisah ini diabadikan dalam Surah Al-Qashash ayat 23. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: 'Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?' Kedua wanita itu menjawab, 'kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya."
Setelah mendengar uraian dua wanita itu, hati Musa pun merasa tergerak untuk membantu. Ia bangkit berdiri mengambil air dari sumur itu, berdesakan dengan orang banyak. Ia lalu memberi minum kepada ternak dua wanita tersebut.
Setelah itu, Musa menuju ke tempat yang agak teduh lalu duduk melepaskan lelah. Saat itu, ia merasa sangat lapar lalu memohon kepada Allah untuk meminta pertolongan.
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS Al-Qashash: 24).
Sementara dua wanita itu pulang lebih awal setelah mendapat bantuan dari Musa. Ayah dari dua wanita itu pun merasa heran dan menanyakan penyebab mereka cepat pulang. Usai mendengar cerita dari anaknya, orang tua tersebut lalu meminta anaknya untuk memanggil Musa.
Baca juga: Kriteria Agama Penting Diperhatikan Laki-laki Sebelum Lamar WanitaSaat sampai ke tempat Musa, wanita itu datang dengan malu-malu lalu berkata, "Saya diutus bapak untuk memanggilmu agar engkau sudi datang ke rumahku, karena bapak telah berhutang budi atas kebaikanmu yang telah menolong kami."
Musa memenuhi undangan tersebut. Keduanya lalu berjalan beriringan. Anak perempuan di belakang, sedangkan Musa di depan untuk menjaga kehormatan kedua belah pihak. Saat tiba, keduanya disambut oleh ayah wanita itu.
Orang tua itu lalu meminta menceritakan dari awal sampai akhir alasan Musa lari dari Mesir. Ia mendengarkan Musa dengan tenang dan melihat sifat-sifat baik dari pemuda tersebut. Ia lalu menenangkan Musa agar tak perlu khawatir, "Di sini, engkau akan terbebas dari pengejaran kaum yang zalim itu."
"Bukan hanya diberikan perlindungan, diberi makan dan minum, lalu ditawari salah satu dari gadis itu," tutur Budi Ashari.
Baca juga: 4 Tips Pilih Jodoh, Nomor 1 Paling Dicari Banyak OrangHal menarik dari kisah ini adalah perilaku salah satu putri dari orang tua tersebut. Ia bercerita kepada ayahnya perihal Musa yang dikenal Qawiyyun dan Al-Amin. Sang ayah bertanya, "Apa yang kamu ketahui tentang hal itu?"
Putrinya menjawab, "Dia telah mengangkat sebuah batu besar yang tidak mampu diangkat kecuali oleh sepuluh orang laki-laki. Dan saat aku datang bersamanya, aku berjalan di depannya, lalu ia berkata kepadaku, 'berjalanlah di belakangku. Jika ia berbeda jalan denganku, ia memberikan sebuah tanda dengan batu kerikil agar aku mengetahui ke mana ia berjalan."
Bagi seorang ayah, pasti tahu perasaan anaknya. Lalu, ia tak hanya meminta Musa bekerja, tapi juga menjadi suami atas putrinya, dan itu sekaligus menjadi akad di antara keduanya.
"Berkatalah dia: Sesungguhnya aku bermaksud menikahkanmu pada salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa engkau bekerja denganku delapan tahun dan jika engkau cukupkan sepuluh tahun, maka itu adalah suatu kebaikan darimu, maka aku tidak hendak memberatkanmu. Dan engkau insyaallah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik." (QS Al-Qashash: 27).
Nabi Musa tidak memiliki alasan untuk menolak."Dia (Musa) berkata: Inilah perjanjian antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan." (QS Al-Qashash: 28).
Pekerjaan itu yang menjadi akad Musa yang juga merupakan permintaan dari putri orang tua tersebut. Musa menyepakati akad tersebut.
"Ini contoh yang sangat baik. Musa memiliki kesempatan berdua-dua dengan wanita itu, tapi amanah. Makanya saya bilang, belajarlah dari Al-Qur'an panduan apa saja tentang keluarga," ucap Budi Ashari.
(jqf)