LANGIT7.ID, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memprediksi konflik Rusia dan Ukraina, yang saat ini tengah berlangsung, memberi dampak terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, dalam diskusi publik secara daring di Jakarta, Rabu, mengatakan hal tersebut terlihat dari perhitungan
equivalent variation yang menunjukkan kesejahteraan rumah tangga, yang salah satunya dilihat dari sisi konsumsi.
"Ternyata Indonesia akan kehilangan angka kesejahteraan masyarakat sebesar 72 juta dolar AS karena konflik ini, berdasarkan hitungan kami menggunakan Global Trade Analysis Project (GTAP)," ucap Rizal, dikutip
Antara (2/3/2022).
Meski demikian, dampak tersebut relatif kecil dibandingkan dengan perkiraan penurunan kesejahteraan masyarakat negara lain seperti negara-negara di Oseania yang akan kehilangan 82 juta dolar AS, Amerika Serikat 7,69 miliar dolar AS, dan Tiongkok 3,02 miliar dolar AS.
Baca juga: Ekonom INDEF Prediksi Indonesia Masuk Metaverse di Tahun 2045Sementara untuk kedua negara yang sedang berkonflik, ia memperkirakan dampak terhadap kesejahteraan masyarakatnya akan lebih dalam lagi, seperti untuk Rusia sebesar 3,01 miliar dolar AS dan Ukraina 6,06 miliar dolar AS.
"Secara agregat kue ekonomi Indonesia juga akan terganggu melalui turunnya konsumsi rumah tangga akibat kenaikan berbagai harga dari komoditas strategis," tegasnya.
Rizal menyebutkan konsumsi rumah tangga Indonesia akan sedikit terganggu dengan adanya konflik Rusia dan Ukraina, meski sangat kecil.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah diperkirakan naik 0,1 persen untuk mengatasi dampak konflik kedua negara melalui berbagai kebijakan yang berpengaruh terhadap ekonomi, misalnya intervensi kenaikan harga minyak goreng karena kenaikan harga minyak dunia.
Baca juga: Al-Azhar Mesir Serukan Dialog, Selesaikan Konflik Rusia-UkrainaSelain itu, pengeluaran pemerintah juga akan meningkat untuk mengeluarkan kebijakan dalam mengatasi peningkatan harga komoditas lainnya yang dipengaruhi aktivitas ekspor dan impor dengan kedua negara tersebut.
"Meski dampaknya memang tidak relatif besar, tapi tetap berpengaruh kepada Indonesia," jelas Rizal.
(jqf)