LANGIT7.ID, Jakarta - Ramadhan sebentar lagi. Umat Islam seluruh dunia akan menyambut bulan penuh ampunan dan rahmat itu dengan suka cita. Maka, sudah sepatutnya para orang tua mengajari anak berpuasa sejak sedari kecil.
Namun, ada rambu-rambu yang mesti diperhatikan oleh para orang tua. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, mengatakan, ada dua kutub ekstrem yang mesti dihindari orang tua dalam mengajari anak berpuasa.
Ada kubu yang terlalu menyepelekan, sehingga tak memotivasi anak-anak berumur 7-8 tahun untuk berpuasa. Ia menganggap anak belum terkena kewajiban berpuasa, sehingga dibiarkan saja dan tidak ada ajakan dan motivasi untuk menahan lapar, dahaga, dan nafsu.
Baca juga: Ini Sejumlah Investasi yang Bisa Dilakukan saat Ramadhan“Kalau anak sudah 7 tahun wajib kita ajari berpuasa. Tapi ingat, jangan berlebihan. Berlebihan di kutub ekstrem, ketidakmengertian, sehingga tidak mengajari anak berpuasa dan shalat, dengan alasan belum baligh,” kata Buya Yahya di hadapan para santri-santrinya yang ditayangkan melalui kanal
Al-Bahjah TV, Jumat (4/3/2022).
Ada pula kubu yang terlalu memaksakan anak berpuasa. Padahal, anak memiliki batas kemampuan yang harus dipupuk secara perlahan. Berbagai cara dilakukan agar anak puasa sedari waktu sahur hingga magrib.
Kerap didapati pula para orang tua memberikan ancaman Jika anak 7-8 tahun tidak berpuasa. Demikian pula orang tua yang sering mengiming-imingi hadiah jika mampu berpuasa satu hari
full.
“Imbau anak dengan rasa senang. Ajak dengan rasa senang. Kalau ada anak yang berpuasa hanya karena mengharap hadiah sepeda dari orang tua, maka bagi anak itu ibadah yang belum bisa dinikmati. Dia belum berusaha mengenal Allah, tapi karena sepeda,” ucap Buya Yahya.
Baca juga: Jelang Ramadan, Raja Salman Hadiahkan 50 Ribu Al-Qur'an untuk ThailandDi sini terletak pentingnya mendidik ruhani anak sejak dini. Sehingga ia berpuasa atau pun shalat karena Allah, bukan karena hadiah tertentu atau pun karena ancaman. Itu tergantung cara pendekatan orang tua.
“Maka anak 7-8 tahun, kita ajari berpuasa, tapi jangan dipaksakan, karena memang bagi mereka puasa memang belum wajib. Maka, Kalau kita perlihatkan, Kalau dia mulai lemas, terlihat wajahnya lemas, maka kita izinkan mereka berbuka, karena memang belum wajib berpuasa,” tutur Buya Yahya.
Hal-hal kecil bisa dilakukan. Orang tua bisa memotivasi anak berpuasa setengah hari. Saat mengingatkan untuk membatalkan puasa pun menggunakan kosakata agama, seperti buka puasa maupun ‘sahur lagi’.
“Bahasanya bahasa ibadah. Itu saja. Itu untuk anak kecil. Jadi, kalau mau berbuka karena tidak kuat, tidak masalah. Persilahkan berbuka sambil kita motivasi, esok mungkin sudah bisa sampai ashar, hari berikutnya sudah bisa sampai maghrib,” tutur Buya Yahya.
(jqf)