LANGIT7.ID, Jakarta - Kalender 1443 Hijriah memasuki bulan Sya’ban. Artinya, sebentar lagi umat Islam akan menjalankan ibadah shaum (puasa) pada bulan Ramadhan.
Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk menyambut Ramadhan agar ibadah puasa berjalan maksimal. Rasulullah menganjurkan umatnya memperbanyak puasa sunnah dan memasifkan amal shalih.
Salah satu amalan yang rutin dikerjakan sebagian umat Islam pada bulan Sya’ban adalah Shalat Nisfu Sya'ban. Shalat Nisfu Sya’ban merupakan amalan yang tidak diajarkan Rasulullah. Tradisi shalat pada malam pertengahan bulan Sya’ban ini dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin.
Baca Juga: Anjuran Perbanyak Puasa Sya’ban dan Hikmahnya Bagi KesehatanBerikut uraian Shalat Nisfu Sya’ban oleh Al Ghazali sebagaimana dikutip NU Online:
وأما صلاة شعبان فليلة الخامس عشر منه يصلي مائة ركعة كل ركعتين بتسليمة يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة قل هو الله أحد إحدى عشرة مرة وإن شاء صلى عشر ركعات يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة مائة مرة قل هو الله أحد فهذا أيضاً مروي في جملة الصلوات كان السلف يصلون هذه الصلاة ويسمونها صلاة الخير ويجتمعون فيها وربما صلوها جماعة
Artinya, “Adapun shalat sunnah Sya‘ban adalah malam kelima belas bulan Sya‘ban. Dilaksanakan sebanyak seratus rakaat. Setiap dua rakaat satu salam. Setiap rakaat setelah Al-Fatihah membaca Qulhuwallahu ahad sebanyak 11 kali. Jika mau, seseorang dapat shalat sebanyak 10 rakaat.
Setiap rakaat setelah Al-Fatihah Qulhuwallahu ahad 100 kali. Ini juga diriwayatkan dalam sejumlah shalat yang dilakukan orang-orang salaf dan mereka sebut sebagai shalat khair. Mereka berkumpul untuk menunaikannya. Mungkin mereka menunaikannya secara berjamaah,” (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, jilid 1, halaman 203).
Baca Juga: Perangi Hoaks, MASK Dorong Masjid Jadi Kantor BeritaDalam kitab Al-Fatawa karya KH Aceng Zakaria, semua anjuran atau syariat tersebut jangankan berdasarkan Al-Qur'an dan hadits shahih, hadits dhaif pun tidak ada. Demikian juga para sahabat dan tabi'in, malahan imam mazhab yang empat pun tidak ada.
"Yang mengherankan mereka begitu berani membuat syariat baru dalam Islam. Sepertinya para ulama berwenang untuk membuat syariat baru dalam Islam," dikutip dari kitab tersebut.
Sebagaimana Allah Swt telah menyindir dalam Al-Qur'an dengan firman-Nya:
..أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ
Latin:
Am lahum syurakā`u syara'ụ lahum minad-dīni mā lam ya`żam bihillāh.
Baca Juga: Bukan Cuma Hilal, Begini Cara Tentukan Awal Ramadhan dengan HisabArti: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS Asy-Syura: 21).
Amalan Shalat Nisfu Sya’ban juga banyak dikritik oleh ulama ahlussunnah wal jamaah karena tidak ada ajarannya dari Rasulullah. Mereka yang mengkritik di antarnya Imam An Nawawi, Ibnu Hajar Al Haitami, dan Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Cirebon, Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya sendiri menilai tidak ada shalat khusus pada malan Nisfu Sya’ban. "Adapun bila ingin shalat, maka kerjakanlah shalat yang sesuai sunnah, seperti shalat witir, tahajud, istikharah, dan sebagainya," katanya dalam Buya Yahya Menjawab Al Bahjah TV, dilihat Senin (7/3/2022).
Baca Juga: Google Ajak Perempuan Indonesia Bersuara Lewat Kampanye #YukBukaSuara(zhd)