LANGIT7.ID - Ketua Yayasan Anak Teladan, Abu Salma Muhammad, mengatakan, orang tua harus memahami bahwa semua anak bisa bosan dalam belajar. Maka sangat penting untuk mengenali jenis-jenis kebosanan pada anak agar bisa ditanggulangi dengan baik.
Bosan itu tabiat manusia dan semua manusia bisa merasakan bosan. Bosan itu adalah keadaan yang monoton atau berulang sehingga menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan, penat, lelah dan tidak bahagia.
Abu Salma menjelaskan, ada empat penyebab rasa bosan yakni ketika kita tidak tertarik dengan suatu kegiatan, ketika kita merasa kesulitan untuk bisa fokus pada suatu kegiatan, ketika kita merasa tidak senang dengan suatu kegiatan yang biasanya karena dipaksa, atau ketika pikiran dan perasaan lelah dengan rutinitas yang berulang.
“Orang tua juga harus mengerti tentang konsep kebosanan. Orang tua seringkali kurang berempati dengan anak. Orang tua banyak menuntut-anak, meskipun mereka bosan. Padahal kita harus paham, kalau kita bisa bosan, apalagi anak-anak kita,” kata Abu Salam dalam diskusi daring melalui channel Youtube Rumaysho TV, dikutip Selasa (27/7/2021).
Macam-macam BosanMenurut sebuah penelitian pada tahun 2013, ada lima jenis perasaan bosan yang sudah dikenali. Pertama, kebosanan
indifference atau acuh tak acuh. Pada kebosanan ini, orang merasakan kebosanan yang menyenangkan dari menarik diri dari hal-hal di luar dirinya. Kebosanan
indifference dapat terjadi contohnya saat memancing dan menunggu ikan mengambil umpan pancingan kita.
Kedua, kebosanan jenis kedua disebut sebagai kebosanan
calibrating atau kalibrasi. Orang dengan kebosanan ini biasanya berpikir mengenai keinginan untuk melakukan kegiatan lain selain yang saat ini dilakukan. Hal ini dapat terjadi saat seseorang merasa bosan ketika sedang belajar.
Ketiga,
searching atau pencarian. Pada kebosanan ini, seseorang akan merasa tidak tenang dan berusaha mencari kegiatan lain supaya tidak merasa bosan. Biasanya seseorang akan mencari kegiatan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya untuk menghindar dari kebosanan jenis ini.
Keempat,
reactant atau reaktan. Orang yang mengalami kebosanan ini merasakan emosi negatif berlebihan. Umumnya, orang dengan kebosanan ini akan menjadi gelisah dan agresif. Orang yang mengalami kebosanan sangat ingin meninggalkan situasi membosankan mereka dan melarikan diri, namun tidak tahu caranya.
Saat merasakan kebosanan ini, seseorang akan memikirkan kegiatan yang kelihatan lebih baik daripada keadaan saat ini.
Kelima, kebosanan
apathetic atau apatis. Kebosanan ini ditandai dengan tidak adanya perasaan positif ataupun negatif saat merasa bosan. Seseorang juga bisa merasa tidak berdaya dengan kondisi yang dialami saat ini. Menurut penelitian, kebosanan apatis juga berhubungan dengan depresi dan perilaku merusak.
Bosan Bisa Berdampak BaikRasa bosan bisa menjadi hal yang menyebalkan, namun juga memiliki beberapa manfaat. Misalnya pada kebosanan jenis pencarian, seseorang akan tertarik untuk mencoba hal baru. Dengan mencoba hal baru, seseorang juga bisa menemukan hobi baru supaya tidak bosan.
Selain itu, melamun juga dapat meningkatkan kreativitas, teman-teman. Ketika seseorang berangan-angan, ia akan lebih mudah mendapatkan ide baru untuk dilakukan atau bahkan ditulis. Kalau banyak memiliki ide dan kegiatan lain, seseorang juga dapat mengurangi penggunaan
smartphone. Bagaimanapun juga, terus-menerus melihat layar bisa jadi berbahaya bagi mata.
Kiat Menghindari Rasa BosanAbu Salma menjelaskan dua cara menghilangkan rasa bosan dalam belajar. Dia mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hanzhalah.
Hanzhalah pernah bercerita: ketika kami berada di sisi Rasulullah, beliau biasa mengingatkan kami dan menjelaskan tentang neraka. Namun ketika aku sudah kembali ke rumah, aku tertawa bersama anak-anakku dan bermain-main bersama-sama istri.
Suatu hari aku keluar dan bertemu dengan Abu Bakar, lalu menceritakan kebiasaanku kepadanya. Abu Bakar menjawab, demikian juga aku biasa melakukan itu.
Lalu kami bertemu dengan Rasulullah SAW, maka aku berkata: “Ya Rasulullah, Hanzhalah telah munafik”
Beliau bertanya: “kenapa demikian wahai Hanzhalah?”
Aku pun menuturkan kebiasaanku kepada beliau, maka beliau bersabda: “wahai Hanzhalah,
sa’atan sa’atan (ada waktu-waktunya), sekiranya keadaan kalian adalah sebagaimana keadaan kalian saat bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian hingga ketika di perjalanan kalian.”
Abu Salma menjelaskan, hadits itu merupakan salah satu konsep yang ditunjukkan oleh nabi, yaitu setiap perkara ada waktunya masing-masing.
Cara lain yang dilakukan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat agar tidak bosan adalah mengatur hari dalam mengajarkan Islam secara bervariasi.
“Nabi SAW biasa menyelang-nyelangi (mengatur) pemberian nasehat pada hari tertentu, khawatir akan membuat kami bosan.” (HR Bukhari).
“Rasulullah tahu bahwa yang sesuatu yang dilakukan secara terus menerus, dan tidak ada istirahatnya, itu akan membuat manusia bosan. Beliau mengerti tentang tabiat manusia,” ucap Abu Salma.
Sahabat juga memiliki cara mendidik para muridnya agar tidak bosan dalam belajar. Misalnya Abdullah Ibnu Mas’ud. Beliau mengatur frekuensi dan tidak terlalu sering. Abdullah ibnu Mas’ud biasa mengajar setiap hari Kamis. Dia tidak ingin para muridnya bosan. Itu sesuai dengan Rasulullah SAW mengatur variasi waktu dalam mengajar karena khawatir rasa bosan akan menimpa para sahabat.
(jqf)