Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home global news detail berita

Benarkah Rusia Bangsa Rum dalam Nubuat Rasulullah SAW?

Muhajirin Rabu, 09 Maret 2022 - 19:00 WIB
Benarkah Rusia Bangsa Rum dalam Nubuat Rasulullah SAW?
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Invasi Rusia atas Ukraina masih menjadi perbincangan global. Salah satu perbincangan paling menarik adalah analisis tentang bangsa Rum yang termaktub dalam nubuat Rasulullah SAW.

Bangsa Rum merupakan bangsa yang disebutkan Rasulullah SAW dalam nubuat tentang akhir zaman. Mereka disebut akan bersekutu dengan umat Islam.

Dai milenial Zulfan Afdhilla memiliki analisis tersendiri terkait hal ini. Di balik konflik Rusia-Ukraina tersiar kabar tentara Chechnya ikut bergabung dalam pasukan Rusia. Chechnya merupakan negara bagian di bawah federasi Rusia yang memiliki penduduk 95 persen muslim.

Baca juga: Kiai Idrus: Pesantren Benteng Umat Islam di Akhir Zaman

Hal itu bisa diasumsikan pasukan Chechnya yang bergabung dengan pasukan Rusia adalah muslim. Kondisi itu menimbulkan pertanyaan besar yang dikaitkan dengan nubuat Rasulullah SAW di akhir zaman tentang Bangsa Rum.

Nubuat tersebut termaktub dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Dalam hadits itu, Rasulullah SAW bersabda:

“Kamu akan berdamai dengan kaum Rum dalam keadaan aman, kemudian kamu dan mereka akan memerangi suatu musuh. Dan kamu akan mendapatkan kemenangan serta harta rampasan perang dengan selamat.

Kemudian kamu berangkat hingga sampai ke sebuah pada rumput dengan selamat. Kemudian kamu berangkat hingga sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit. Kemudian seorang laki-laki dari kaum salib mengangkat tanda salib seraya berkata ‘salib telah menang’.

Maka marahlah seorang laki-laki dari kaum muslimin kepadanya, lalu ia mendorongnya dan jatuh (meninggal), pada waktu itu orang-orang Rum berkhianat, dan mereka berkumpul untuk memerangi kamu di bawah 80 bendera, di mana tiap-tiap bendera terdapat 12 ribu tentara.”

Dalam hadits tersebut, disebutkan bangsa Rum dan umat Islam akan melakukan perjanjian damai dalam keadaan aman. Tujuan dari perjanjian itu adalah sama-sama memerangi musuh.

“Melihat fenomena sekarang, banyak orang yang berpendapat bahwa Bangsa Rum yang dimaksud bisa saja itu adalah Rusia. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud Bangsa Rum ini, dan apakah cocok jika dikaitkan dengan kondisi peperangan seperti sekarang?” kata Zulfan Afdhilla dalam podcast-nya dan ditayangkan dalam kanal Rabbanians ID, dikutip Rabu (9/3/2022).

Rum dalam Sejarah Islam

Bagi orang Arab, istilah Rum sudah dikenal semenjak abad ke-4 Masehi karena tertulis dalam prasasti Namara. Maksud Rum dalam prasasti itu juga sama dengan Rum yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum.

Baca juga: Antara Israel, Yahudi dan Ukraina

Istilah Rum bagi orang Arab dan dalam Al-Qur’an sama-sama dipahami untuk menyebut Kekaisaran Romawi Timur. Perlu diketahui, Kekasaisaran Romawi terbagi dua yakni Kekaisaran Romawi Barat dengan Ibu kota Roma Italia dan Kekaisaran Romawi Timur yang beribu kota Konstantinopel.

Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada abad ke-5 Masehi. Dengan begitu, sudah jelas istilah Rum bukan untuk Kekaisaran Romawi Barat. Kekaisaran Romawi Timur terkenal dengan Kekaisaran Byzantium, yang sekarang menjadi Turki setelah ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih.

Siapa Bangsa Rum Saat Ini?

Berdasarkan paparan di atas, istilah Rum sangat lekat dengan aspek geografis dan politis. Namun, hal yang menjadi masalah adalah hadits di atas bercerita tentang Bangsa Rum yang berbeda jika dikaitkan dengan keadaan sekarang.

Dalam hadits disebutkan, umat Islam akan mengadakan perdamaian dengan Bangsa Rum dalam keadaan damai. Rum juga digambarkan sebagai nonmuslim.

Jika merujuk pada eksistensi politik Romawi Timur, maka itu sudah pasti punah. Jika merujuk pada eksistensi geografis pun saat ini, Romawi Timur sudah menjadi wilayah umat Islam.

Atas dasar itu, kata Rum yang dimaksud tidak hanya merujuk pada aspek geografis dan politis saja, tapi juga berkaitan dengan aspek agama. Dalam hadits disebutkan bangsa Rum adalah penganut agama Salibiah.
Kekaisaran Romawi Timur secara agama memang identik dengan kekristenan. Kaisar pertama Byzantium merupakan Konstantinus Agung yang memisahkan diri dengan Romawi Barat.

Konstantinus Agung juga merupakan kaisar pertama yang memeluk Kristen. Selain itu, Kekristenan di Byzantium terkenal dengan Gereja Ortodoks Timur. Akan tetapi, Bangsa Rum yang dimaksud hadits Rasulullah adalah mereka yang memiliki kekuasaan politik.

Baca juga: Kaukasus Hingga Volga: Gerbang Islam Masuk Rusia

Sedangkan, uskup kawasan Gereja Ortodoks Timur saat ini tidak memiliki kekuatan politik untuk berperang. Oleh karena itu, Bangsa Rum yang dimaksud adalah jemaat Gereja Ortodoks Timur di wilayah lain yang memiliki kekuatan dalam berperang.

Saat ini, mayoritas penganut Gereja Ortodoks Timur berada di kawasan Balkan dan Rusia seperti di negara Belarusia, Bulgaria, Rumania, Serbia, Ukraina, dan Rusia. Sehingga, beberapa negara itu memiliki eksistensi Gereja Ortodoks Timur yang mendapat wewenang dan diakui secara politik mewakili Kekristenan Rum.

Hal yang perlu diketahui, setelah Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam, Gereja Ortodoks Timur mendesak agar didirikan pusat Kekristenan lagi. Mereka memilih Moskow, yakni Rusia. Mereka lalu mendeklarasikan Moskow sebagai Roma ke-III.

Berdasarkan data-data itu, bisa saja Rusia diinterpretasikan sebagai Bangsa Rum, karena secara politik dan agama memiliki keterkaitan dengan Bangsa Rum atau Romawi Timur.

“Akan tetapi, tetap saja kita harus berhati-hati dalam menafsirkan sebuah hadits, karena jika salah menafsirkan akan berakibat fatal,” kata Zulfan Afdhilla.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan