LANGIT7.ID, Jakarta - Psikolog dan Dosen Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, menilai, usia untuk masuk jenjang sekolah dasar (SD) bagi setiap anak bisa jadi berbeda-beda. Itu tergantung pada kesiapan yang dimiliki setiap anak.
Kematangan untuk bersekolah tidak dilihat dari usia. Ini karena setiap anak memiliki perbedaan individu, ada yang berusia 5 tahun sudah matang dan ada yang 7 tahun.
“Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang, karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata,” kata Rose dalam webinar Kemendikbud-Ristek RI dan disiarkan dalam akun
YouTube, dikutip Kamis (10/3/2022).
Baca juga: Kebiasaan Bermain dengan Menggoda Anak, Sehatkah?Rose menjelaskan beberapa aspek kesiapan sekolah. Orang tua dan pendidik perlu memahami aspek tersebut agar anak bisa berkembang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Di antaranya, aspek fisik yang meliputi motorik kasar dan motorik halus. Kesiapan bahasa yang meliputi perkenalan diri, bercerita, menjawab pertanyaan, dan bernyanyi.
Kesiapan kognitif meliputi mengenal sesuatu, mengenal warna, mengetahui angka, membedakan bentuk, dan bisa mengelompokkan benda. Kesiapan sosial-emosional yakni bermain interaktif, berperilaku sesuai norma, menghargai perbedaan, tidak terlalu bergantung dengan orang tua, dapat menolong orang atau temannya, dan menunjukkan rasa setia kawan.
Kesiapan kemandirian meliputi bisa makan sendiri, memakai baju sendiri, menyikat gigi sendiri,
toilet learning, dan dapat teratur pada rutinitas (misal bangun tidur).
Baca juga: Tiga Tahap Belajar Alquran bagi AnakRose menjelaskan, ada beberapa yang bisa terjadi jika anak masuk SD dengan kondisi tidak siap. Anak akan sulit beradaptasi, sulit untuk memahami pelajaran, merasa tidak nyaman di sekolah/demotivasi, dan penurunan prestasi.
Rose mengatakan, cara untuk Menyiapkan anak usia dini pada masa transisi (ke jenjang SD) adalah dengan melakukan stimulasi. “Jangan pernah berhenti untuk menstimulasi. Paling mudah adalah dengan bermain,” katanya.
Anak menyukai stimulasi dengan bermain, karena hal itu disenangi anak tanpa didasari keterpaksaan. Bermain merupakan cara belajar yang paling alami serta mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak.
Selain itu, bermain juga bisa menambah wawasan,
skill, dan membentuk perilaku anak. Dalam hal ini, anak akan belajar berbagai konsep. “Bermain itu menyiapkan diri (anak) dalam kehidupan,” ucap Rose.
(jqf)