LANGIT7.ID - , Jakarta - Pernahkan Anda merasa cemas berlebihan karena tidak ingin ketinggalan trend atau update informasi terbaru dalam suatu hal? Jika pernah, mungkin Anda terkena sindrom Fomo atau fear of missing out atau biasa disebut fomo.
Praktisi HR, Dhea Rizky Ardini mengatakan kecemasan dalam dunia kerja umumnya terjadi karena takut ketinggalan informasi terbaru atau apa yang dilakukan oleh rekan kerja.
"Contoh, ketika teman kita lagi ngumpul bareng di kafe atau mengikuti suatu training dan kita tidak ikut karena tidak tahu. Lalu kita mengetahuinya dari sosial media mereka. Nah, hal itu akan menimbulkan rasa cemas, ketakutan 'kok saya tidak diikutkan sih?' atau 'kok mereka
meeting saya tidak diajak?' dan lainya," ujar Dhea kepada Langit7, Kamis (10/3/2022).
Baca juga: Website Garapan Alumni ITB, Solusi Anak Muda Hadapi Dunia KerjaSindrom fomo sendiri memiliki dua gejala emosi yaitu kecemasan dan ketakutan. Untuk kecemasan, misal Anda merasa bahwa pekerjaan Anda selalu tidak cukup. Anda akan merasa sudah kerja keras tapi selalu ada perasaan-perasaan yang kurang. Seperti orang perfeksionis istilahnya.
"Lalu, ada rasa ketakutan untuk tidak diikut sertakan dalam kegiatan pekerjaan. Tidak hanya kegiatan di internal kantor saja, tetapi juga di kegiatan eksternal," ucapnya.
Akibatnya, karyawan yang mengalami sindrom fomo akan merasa kelelahan karena ia tidak mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggungjawabnya saja. Tetapi juga pekerjaan-pekerjaan lainnya misal ikut training atau kegiatan di kantor secara berlebihan. Alhasil, dia menjadi tidak fokus dengan pekerjaan utamanya.
Lebih lanjut, alumni Universitas Indonesia ini mengatakan pengidap fomo akan menghasilkan pekerjaan yang tidak maksimal atau asal selesai saja. Namun, ada juga yang memiliki kompetensi baik, tanggung jawab selesai, dan ikut dalam semua kegiatan.
"Padahal dalam hatinya tidak ingin. Cuma karena merasa cemas dan takut ketinggalan atau tidak
update, akhirnya ia melakukannya. Dampak negatifnya akan terjadi pada dirinya sendiri, yaitu ia jadi lelah," pungkas Dhea.
Untuk mengatasi sindrom tersebut agar tidak berlarut-larut, Dhea membagikan cara mengatasinya. Karena sindrom ini tak terlepas dari pengaruh internet, Dhea menyarankan untuk membatasi penggunaan internet atau media sosial.
Baca juga: Tak Bisa Lepas dari Sosmed, Awas Terjangkit Sindrom Fomo"Misal sudah di luar jam kerja, silahkan bersantai. Tinggalkan pekerjaan sejenak, agar Anda tidak terus menerus memegang
handphone," katanya.
Selanjutnya, dengan mengetahui kemampuan dan keinginan diri. Kritis dalam bertanya, khususnya pada diri sendiri, apakah kegiatan kantor tersebut memiliki manfaat dan berpengaruh pada jenjang karir.
"Sederhananya, kita harus tahu apa yang kita butuhkan dan inginkan," pungkas Dhea.
(est)